• KANAL BERITA

Pengelola Merugi, Sebagian BST Dikandangkan

Sejumlah calon penumpang menunggu bus Batik Solo Trans (BST) di selter Jalan Slamet Riyadi, Rabu (22/5). (suaramerdeka.com/Yusuf Gunawan)
Sejumlah calon penumpang menunggu bus Batik Solo Trans (BST) di selter Jalan Slamet Riyadi, Rabu (22/5). (suaramerdeka.com/Yusuf Gunawan)

SOLO, suaramerdeka.com – Lantaran merugi, manajemen Batik Solo Trans (BST) memilih mengandangkan sebagian bus yang dikelolanya, sehingga waktu jeda antarbus (headway) BST di tiga koridor bertambah panjang.

Penumpang harus menuggu lebih lama dari biasanya untuk mendapatkan layanan BST. "Untuk sementara waktu beberapa armada memang dikurangi dulu (tidak dioperasikan). Pendapatan kami dari hasil operasional semakin tidak cukup," ungkap Direktur PT Bengawan Solo Trans, Farida Wardhatul Jannah, Rabu (22/5).

Pengurangan jumlah bus itu dilakukan dengan dua metode. Pertama adalah pengurangan bus yang beroperasi di koridor tertentu. Kedua, penundaan operasional bus di koridor lain sesuai prosedur operasional standar (SOP) yang ditetapkan Pemkot.

"Di Koridor 2, awal operasional pada 2017 kami menjalankan 21 armada. Kemudian dikurangi menjadi 15 armada pada 2018, dan dikurangi lagi pada tahun menjadi hanya 8-10 armada," jelasnya.

Kebijakan serupa juga diberlakukan di Koridor 3. Ada pun di Koridor 1 hingga kini hanya beroperasi maksimal 14 unit bus, padahal idealnya 15 unit bus.

"Jeda antarbus jelas bertambah, karena jumlah armada yang dioperasikan berkurang. Kami harap masyarakat bisa memahami jika mereka terpaksa menunggu lebih lama di halte. Namun kami tetap berkomitmen menyelenggarakan pelayanan BST sebaik-baiknya," kata Farida.

Ia mengaku belum bisa memastikan sampai kapan pengandangan sebagian bus itu. Sebab kebijakan ini sejalan dengan kerugian konsorsium tersebut, sejak maraknya angkutan umum berbasis aplikasi online di Solo.

"Pada 2017 kondisinya masih baik, sebelum ada transportasi online. Tapi kini kritis. Saat ini saja kami kesulitan memberikan gaji plus tunjangan hari raya (THR) kepada karyawan, padahal tahun lalu kami masih bisa memberi gaji bersamaan dengan THR," urai Farida.

Untuk itu, manajemen PT Bengawan Solo Trans meminta subsidi operasional kepada Pemkot, saat berkoordinasi di Balai Kota, pekan lalu. Namun Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Hari Prihatno menerangkan, saat ini Pemkot masih menunggu pematangan skema buy the service layanan transportasi umum.

"Kami akan memaksimalkan tawaran itu, untuk menghidupkan lagi jalur-jalur transportasi eksisting. Termasuk tiga koridor BST," tegasnya.


(Agustinus Ariawan/CN40/SM Network)