• KANAL BERITA

Serial Pengabdian Masyarakat Vokasi Humas 2019

Bangun Masyarakat Melek Digital Indonesia

Foto suaramerdeka.com/dok
Foto suaramerdeka.com/dok

DEPOK, suaramerdeka.com - Bertempat di Aula Mekarjaya RW 09, Depok, Himpunan Mahasiswa (HM) Vokasi Humas UI menggelar serial pengabdian masyarakat (Pengmas) di Kampung Digital Vokasi Humas. Pengmas ini  diikuti oleh para remaja di Depok yang berlatih penggunaan Ms. Word bersama mentor Fauzan Alrasyid.

“Data Badan Pusat Statistik menyebutkan dari 143 juta jiwa anak muda, 54 persen itu sudah menggunakan internet. Angka ini adalah potensi yang sangat besar dan peluang kerja dunia digital sangat terbuka lebar. Namun, sebesar 90,61 persen anak muda memanfaatkan internet hanya untuk bermain atau berselancar di media sosial dan jejaring sosial " ujar Devie Rahmawati selaku Kepala Program Studi Vokasi Humas UI.

“Kampung digital ini dosen dan mahasiswa Vokasi Humas didirikan sebagai arena bermain sekaligus belajar tentang perkembangan digital baru kepada anak, remaja dan masyarakat di Depok, agar dapat terus menambah ketrampilan digital yang dapat digunakan untuk kegiatan produktif,” seru Danurifqi, Ketua Himpunan Mahasiswa Vokasi Humas UI.

“Secara bertahap, kami akan mengajar di Kampung Digital. Modul yang akan kami berikan dari mulai penguasaan software untuk menulis seperti Ms.Word, Power Point. Excell hingga software untuk merancang bisnis seperti Produksi Audio Visual dan Editing. Harapan kami, anak dan remaja di kampung digital dapat secara mandiri mengambil manfaat dari gawai mereka untuk menghasilkan tulisan ataupun memulai bisnis online mereka,” tambah Danu, mahasiswa Program Vokasi Humas angkatan 2017.

Pimpinan lingkungan yaitu Kepala RW serta koordinator dari Kelurahan Mekarjaya RW 09 turut mengisi kegiatan dengan aktivitas monitoring. “Ini merupakan kegiatan positif yang membantu program RW kami. Kami berterimakasih pada Dosen dan Mahasiswa Vokasi Humas UI yang mendirikan Kampung Digital, untuk terus mengajari warga kami hingga Desember 2019.” ujar Pak RW 09 Mekarjaya Depok.

Di tempat terpisah, Klinik Digital Vokasi Humas memberikan materi bertajuk “Authentic Communication. In The Artificial Era”, secara gratis kepada para pekerja profesional yang merupakan perwakilan perusahaan dari seluruh Indonesia. Para pembicara yang juga Dosen Vokasi Humas UI, William Utoma, Aristama Roesli, Ngurah Rangga Wisesa dan Devie Rahmawati, mengupas tips dan trik seputar Big Data, Media Digital, Kampanye dan Etika Digital.

“William menyampaikan bahwa meskipun di era digital ini, para pengguna media digital lebih senang dengan produk – produk visual, namun dengan kemampuan memproduksi narasi yang sederhana tapi menarik, bukan hal yang sulit. Terbukti, William, yang selain menjadi pengajar praktik di Vokasi Humas, juga memiliki usaha media informasi yang berhasil merebut pembaca sebanyak 30 juta orang per bulannya,” ujar Amelita Lusia, Co-Founder Klinik Digital Vokasi Humas UI   

“Rangga, pengajar praktik Manajemen Event menyebutkan bahwa produk-produk yang ingin menjuarai di dunia digital harus memastikan bahwa memiliki kreatifitas yang kuat. Modal uang bukanlah segalanya, “ seru Amelita yang juga dosen tetap di Vokasi Humas.

“Lain lagi dengan Tama, pengajar praktik mata kuliah media monitoring, yang menyampaikan bahwa kemampuan Big Data telah menghasilkan berbagai produk digital, yang bila tidak bijak digunakan, dapat memicu perpecahan di kalangan masyarakat. Tama menyampaikan bahwa sudah beredar luas di US dan Eropa sebuah software, yang mampu mengedit video dengan mudah, dengan ucapan dan gaya yang berbeda dari aslinya. Software ini sudah nyaris sempurna, sehingga akan sangat berbahaya, ketika digunakan oleh orang-orang yang ingin menyebarkan berita palsu dan bohong,” tambah Reska Herlambang, Co-Founder Klinik Digital Vokasi Humas UI.

Devie Rahmawati, dalam penutupannya menyampaikan bahwa setiap perusahaan harus melakukan edukasi tentang etika digital di perusahaan. Bagaimana seorang karyawan yang notabene menjadi wajah perusahaan, untuk memelihara lisan dan kata di media sosial. Hal ini bukan hanya karena kepentingan perusahaan semata, namun setiap personal karyawan harus mampu membangun citra digital yang positif. Karena di era teknologi 4.0, jejak digital menjadi etalase diri yang paling otentik. Di berbagai perusahaan di Amerika Serikat misalnya, sejak 10 tahun lalu, perekrutan karyawan dilakukan dengan deteksi digital.


(Red/CN19/SM Network)