• KANAL BERITA

Manisnya Gula Kelapa Menembus Pasar Eropa

MENYORTIR GULA : Pekerja di industri rumahan gula semut Desa Semedo, Kecamatan Pekuncen menyortir gula supaya tidak terdapat kotoran. (Foto suaramerdeka.com/Puji Purwanto)
MENYORTIR GULA : Pekerja di industri rumahan gula semut Desa Semedo, Kecamatan Pekuncen menyortir gula supaya tidak terdapat kotoran. (Foto suaramerdeka.com/Puji Purwanto)

DI ruang produksi gula semut "Semedo Manise" milik Kelompok Gula Semut Manggar Jaya Desa Semedo, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, terlihat dua perempuan sibuk menyortir gula kelapa serbuk atau biasa disebut gula semut.

Penyortiran gula yang di setor dari petani penting dilakukan supaya gula semut tidak tercampur dengan kotoran maupun logam berat dari wajan. Fungsi kontrol ini menjadi tugas utama sebelum gula semut dikirim ke pengekspor untuk dipasarkan ke berbagai negara.

Di kelompok itu, rata-rata hasil produksi gula semut dalam sebulan mencapai 20 ton, sedangkan jumlah anggotanya tercatat 138 petani (data 2017). "Sekarang produksi gula kelapa turun antara 12-15 ton karena pengaruh cuaca," kata Ketua Kelompok Gula Semut Manggar Jaya Desa Semedo, Ahmad Sobirin, kemarin.

Dari kapasitas produksi itu, 98 persen dipasarkan ke mancanegara, seperti negara-negara Eropa, India dan Amerika Serikat melalui pengekspor, sedangkan 2 persen dipasarkan di ritel.

Meskipun mampu menembus pasar Eropa, upaya kelompok memproduksi gula organik membutuhkan proses panjang. Terutama dalam mengubah pola pikir petani untuk berpikir maju dan melepas jerat tengkulak yang selama ini membelenggu mereka.

Ahmad Sobirin menceritakan, sebelumnya gula kelapa petani selalu dihargai rendah oleh tengkulak karena menggunakan sistem ijon. Model jual beli antara petani gula dengan tengkulak dengan cara memenuhi kebutuhan pokok rumah tangga, kemudian gula yang dihasilkan masuk ke tengkulak. 

Harga gula cetak milik petani pada waktu itu atau sekitar 2011 berkisar Rp 5.000 per kilogram. Adapun kapasitas produksi masing-masing petani antara 5-10 kilogram per hari. Artinya, pendapatan harian mereka berkisar Rp 25.000 hingga Rp 50.000 per kilogram. 

Padahal, banyak petani gula yang tidak memiliki pohon sendiri, tetapi menderes pohon milik orang lain dengan sistem bagi hasil. Bagi hasil yang diberikan, lima hari produksi untuk pemilik dan lima hari produksi untuk penderes.

Dari permasalahan itu, hal pertama yang dilakukan Ahmad Sobirin yaitu mengubah pola pikir agar petani mampu meningkatkan kualitas produk. Kualitas ini juga dapat meningkatkan nilai jual. Bersamaan dengan itu, petani diajak memproduksi gula semut, serta diarahkan membentuk kelompok. Kelompok ini sebagai wadah untuk sharing antarpetani gula kelapa. 

"Namun, banyak petani gula acuh tak acuh, bahkan sebagian mencemooh karena petani tidak butuh konsep dan teori tapi bukti," katanya.

Respons petani menjadi tantangan sendiri bagi Ahmad Sobirin untuk terus mengedukasi petani memproduksi gula semut. Dengan ketekunan dan kesabaran dalam membina kelompok, lambat laun membuahkan hasil. 

Para petani mulai beralih dari gula cetak ke gula semut organik. Mereka juga telah mengantongi sertifikat organik yang difasilitasi dari pengekspor. Dengan kesadarannya, mereka juga membangun dapur bersih dengan keramik, sehingga kualitas gula semut meningkat. 

Di sisi lain, kini para petani gula sudah bebas dari tengkulak dan mandiri. Pendapatan mereka meningkat. Harga gula semut di tingkat petani berkisar Rp 17.000 per kilogram.

Petani gula Desa Semedo, Rohyati mengaku sebelumnya petani gula kurang sejahtera. Namun, setelah memproduksi gula semut, lambat laun manfaatnya mulai terasa, salah satunya pendapatannya meningkat.

"Dulu kami tidak bisa menabung karena hasil penjualan gula habis untuk kebutuhan keluarga, tapi sekarang saya bisa menabung Rp 100.000 per bulan melalui kelompok," tuturnya.

Produk Unggulan

Gula kelapa merupakan salah satu produk unggulan di Kabupaten Banyumas dan sebagai kompetensi inti daerah kementerian perindustrian 2013. Volume produksi gula kelapa di Kota Satria ini juga terbesar di antara daerah lain di Jawa Tengah.

Data di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag), mencatat jumlah penderes mencapai 26.282 orang (2015), sedangkan jumlah industri rumahan gula kelapa 31.521 unit usaha. 

Sementara itu, data dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dinpertan KP) Kabupaten Banyumas, mencatat luas areal kelapa deres 5.020,13 hektare dengan kapasitas produksi 53.408,86 ton.

"Dari total produksi gula, kapasitas produksi gula semut sekitar 12-15 persen," kata Kepala Dinpertan KP Banyumas, Widarso.

Gula semut dari Banyumas dipasarkan ke Negara Jepang, Singapura, Jerman, Amerika, Timur Tengah, Korea, Swedia, Kanada dan Belanda. Kapasitas produksi gula semut belum mampu memenuhi permintaan luar negeri. 

Untuk mengoptimalkan kapasitas produksi dan mendukung perkembangan usaha gula organik, Dinpertan KP Banyumas memberikan pendampingan mulai dari budidaya tanaman kelapa, memberikan bibit berkualitas, edukasi pola perawatan pohon dan pemupukan organik, serta peningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) petani.

"Kami memberikan pembinaan pengolahan gula kelapa, seperti bantuan dapur sehat, bantuan alat pengolah, kemasan serta pembinaan manajemen kelompok," katanya.

Meskipun demikian, Widarso mengaku tantangan mengembangkan produk olahan hasil pertanian adalah regenerasi. Saat ini, tidak sedikit generasi muda tidak tertarik terjun menjadi petani gula, karena risiko angka kecelakaan tinggi. "Ini yang cukup sulit," kata Widarso.

Ahmad Sobirin juga mengaku tidak bisa langsung mengajak pemuda untuk menjadi penderes. Karena itu, untuk merangsang generasi muda, ia mengenalkan produk turunan seperti dengan memproduksi virgin coconut oil (VCO) atau minyak kelapa, budidaya kelapa kopyor, serta memberikan pelatihan kerajinan tempurung kelapa.

"Ini untuk menarik dulu anak muda. Mereka di kelompok tidak harus menderes. Ketika sudah masuk kelompok, lambat laun bisa ditarik ke penderes," katanya.

Namun, polanya berbeda dengan penderes lama. Kelompok akan memfasilitasi penanaman pohon kelapa genjah atau kelapa pendek. Sehingga, anak muda tidak perlu memanjat pohon, karena nira dapat dideres dengan cara berdiri. Ini dapat mengurangi risiko kecelakaan kerja. 

"Kami akan mulai menanam penanam kelapa genjah. Saat ini ada dua pohon yang ditanam 2014 dan dapat dideres sambil berdiri," katanya.

Berbeda dengan uapaya dari Kelompok Tani Cikal Mas Desa Pageraji, Kecamatan Cilongok. Kelompok itu mencoba berinovasi dengan membuat alat pengaman menderes. Alat pengaman yang diberi nama safety belt memberikan rasa aman saat mengambil nira.

Alat ini juga sebagai jawaban untuk menekan risiko kecelakaan kerja bagi para petani penderes. "Kami harus mempertahankan jumlah petani penderes dengan cara memberikan alat yang aman," kata Ketua Kelompok Tani Cikal Mas, Arbi Anugrah.

Dengan upaya yang dilakukan para pengurus kelompok petani gula, baik melalui program produk turunan dan pengembangan pohon kelapa genjah, serta alat pengaman memanjat pohon kelapa dapat menjaga regenerasi petani gula. Apabila jumlah petani gula terjaga dan produktivitas gula organik meningkat, potensi pasar ke negara-negara Eropa akan semakin terbuka.


(Puji Purwanto/CN19/SM Network)