• KANAL BERITA

Catatan Kecil dari Pentas Tadarus Puisi

Salah satu adegan Pentas Tadarus Puisi yang dibawakan Teater ESKA UIN Suka, Yogyakarta. (suaramerdeka.com/dok)
Salah satu adegan Pentas Tadarus Puisi yang dibawakan Teater ESKA UIN Suka, Yogyakarta. (suaramerdeka.com/dok)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Tadarus Puisi yang dibawakan Teater ESKA Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga (Suka) Yogyakarta di gelanggang mahasiswa setempat, kemarin malam sungguh menapjubkan karena membawa pesan yang cukup bermakna bagi kehidupan manusia di alam semesta.

Pentas yang digelar setiap bulan ramadhan atau biasa disebut pentas Tadarus Puisi ini, sangat berbeda dibanding dengan pentas-pentas sebelumnya. Karena pentas kali ini, masih merupakan rangkaian dari proses pentas produksi ke 34 pada akhir tahun ini. Meski demikian, garapan anak-anak Teater ESKA dalam pertunjukan kali ini cukup apik dan menarik.

Sebelumnya pentas 'Penjuru Khayali' yang diselenggarakan pada 5 April 2019 lalu, mengangkat isu krisis lingkungan memiliki fokus kajian memahami urutan terjadinya kerusakan alam, merupakan rangkaian awal dari pentas produksi. 

Dengan isu yang sama, pentas tadarus puisi kali ini lebih fokus pada kajian bagaimana mengembalikan ekosistem alam yang rusak akibat sikap eksploitatif manusia. Dimana kurang memperhatikan lingkungan yang ada disekitarnya, semua sumber alam dibabat habis nyaris tak tersisa.

Sepertyinya dalam konsep pengembalian ekosistem, pentas tadarus puisi sengaja menampilkan konsep sedulur papat limo pancer dari Sunan Kalijaga. Intinya adalah manusia menganggap alam sebagai saudara, maka kerusakan yang terjadi terhadap alam dirasakan pula oleh manusia. 

Empat saudara yang lahir dalam waktu yang bersamaan, namun meski wujud dan tempatnya berbeda tapi tetap akan bertemu juga di tempat dan waktu yang sama. Inilah hebatnya keluarga Teater ESKA menerawang kehidupan, bila alam dan seisi bumi tak dijaga kelestariannya hidup manusia akan tersiksa. 

Kisah yang dibawakan sebenarnya sederhana, namun karena pementasannya digarap secara serius dan profesional sehingga bentuk sajiannya menjadi menarik dan apik. Apalagi cerita yang mereka suguhkan mengandung makna yang cukup dalam, sehingga orang yang menyaksikan senang dibuatnya.
 
Pementasan ini sekaligus menjadi kritik bagi seluruh masyarakat tanpa kecuali, khususnya bagi mereka yang kurang peduli terhadap lingkungan yang ada disekelilingnya. 

Padahal kerusakan alam disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri, maka melalui pementasan ini diharapkan manusia sadar akan pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan yang ada di sekitarnya.

Dengan pentas tadarus puisi ini, semoga bisa mengembalikan atau setidaknya bisa mengingatkan manusia untuk melakukan pembenahan atas apa yang telah dilakukan terhadap alam. Walau alam tak pernah meminta, namun setidaknya kita sebagai manusia bisa lebih menghargai alam agar hidup kita bisa lebih aman dan nyaman.


(Sugiarto/CN42/SM Network)

Berita Terkait
Loading...
Komentar