• KANAL BERITA

Efek Stunting Fatal, Ayah Dituntut Berperan

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan Slamet Budiyanto memaparkan upaya untuk mencegah stunting pada acara Pemantapan Masyarakat Setop Generasi Stunting di Aula Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Rabu (15/5). (suaramerdeka.com/Isnawati)
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan Slamet Budiyanto memaparkan upaya untuk mencegah stunting pada acara Pemantapan Masyarakat Setop Generasi Stunting di Aula Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Rabu (15/5). (suaramerdeka.com/Isnawati)

PEKALONGAN, suaramerdeka.com - Pemenuhan gizi, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan, menjadi salah satu kunci dalam mencegah stunting atau pertumbuhan anak tidak optimal. Sementara stunting dapat berakibat fatal bagi perkembangan sumber daya manusia.

Oleh karena itu, kedua orang tua perlu memperhatikan pengetahuan tentang gizi anak. Bukan hanya ibu bayi melainkan ayah dituntut memainkan peran yang sama.

‘’Bapak juga harus ikut berperan. Jangan hanya diserahkan ke ibunya. Stunting dapat berakibat fatal bagi perkembangan sumber daya manusia," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan  Slamet Budiyanto saat kegiatan Pemantapan Masyarakat Setop Generasi Stunting, Dinas Kesehatan Kota Pekalongan di Aula Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Rabu (15/5).

Budi mengingatkan kalau telanjur anak mengalami stunting atau gangguan pertumbuhan, ke depan sulit untuk diperbaiki dan akan menyebabkan sumber daya manusia kurang baik.

Sosialisasi diikuti Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) kelurahan se-Kota Pekalongan dan karang taruna di Kota Pekalongan. Angka stunting di Kota Pekalongan saat ini 8-9 persen dari jumlah anak 19.000 -20.000.

Dinas Kesehatan Kota Pekalongan terus berupaya mencegah anak tumbuh stunting. Yang perlu diperhatikan untuk mencegah stunting tidak hanya kecukupan gizi, namun pola asuh, sehingga ibu dan ayah berperan dalam tumbuh kembang anak.

‘’Upaya nyata pencegahan stunting harus dimulai sejak 1.000 hari pertama kehidupan. Yakni dihitung sejak bayi masih dalam kandungan. Perbaikan gizi harus sejak dalam rahim sampai dengan 1.000 hari pertama kehidupan bayi atau balita,’’ kata Budi.

Selain itu, dia berpesan kepada para remaja untuk memperhatikan kecukupan gizinya, sehingga saat menikah dan hamil, gizi sudah terpenuhi dari awal.

‘’Dengan demikian, embrio dan kondisi bayi akan sehat, lahir secara lancar dan tidak mudah terserang penyakit,’’ katanya.


(Isnawati/CN42/SM Network)