• KANAL BERITA

Mbah Liem, Pencetus Slogan NKRI Harga Mati

Mbah Liem. (suaramerdeka.com/Agus Fathuddin Yusuf)
Mbah Liem. (suaramerdeka.com/Agus Fathuddin Yusuf)

SEMARANG, suaramerdeka.com - NKRI Harga Mati, belakangan seringkali kita dengar, sering kita baca dan diteriakkan secara bersama-sama untuk memompa semangat kecintaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun pernahkah anda bertanya siapakah sosok yang kali pertama mengucapkan dan terus menerus menyampaikan dalam setiap forum sehingga menjadi slogan yang sangat popular sekarang?

Almaghfurlah KH Muslim Rivai Imampuro lah yang mempopulerkan NKRI Harga Mati. Tak heran karena sikap tegasnya itu Mbah Liem, pendiri Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten sering terlihat di berbagai acara TNI, Polri mau pun kepemudaan. Tidak seperti kiai-kiai pada umumnya yang selalu berpenampilan necis, bersarung dan bersorban, Mbah Liem lebih sering tampil di publik memakai jaket Banser dan memakai topi bukan kopiah. Kadang juga terlihat unik dan nyentrik. Saat memyampaikan pidatonya di muka umum sering berpakaian ala tentara, memakai topi berdasi bersepatu tentara tapi sarungan.

Ketika didaulat menyampaikan pidato dalam pertemuan kiai-kiai, biasanya diperlukan penerjemah untuk menjelaskan kalimat-kalimat yang disampaikan Mbah Liem.
Pidatonya, biasanya singkat dan banyak menggunakan isyarat-isyarat anggota tubuhnya.

Menurut KH Jazuli Kasmani, salah satu putra menantunya, Mbah Liem keturunan Kiai Imampuro, ulama ternama dari Keraton Surakarta. Semasa hidupnya dikenal sangat dekat dengan kalangan petinggi negara hingga petani-petani miskin di pedesaan. Mbah Liem juga dikenal sangat dekat dengan Gus Dur. Beberapa kali dalam pidatonya, KH Abdurrahman Wahid sering meledek dengan guyonan-guyonan segar Mbah Liem.

''Rasa nasionalisme yang tinggi merupakan caranya menjaga warisan para pendiri bangsa, termasuk ulama, yang memerdekakan Indonesia. Pancasila menurut Mbah Liem sudah final. Dasar negara selain Pancasila dipastikan tidak dapat digunakan di Indonesia. Dengan Pancasila, Islam yang rahmatan lil alamin justru benar-benar bisa diterapkan,'' kata Jazuli, mengutip pernyataan Mbah Liem.

Di Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti, para santri MTs dan MA wajib mengikuti upacara bendera. Dalam berbagai acara, pesantren juga tak pernah lupa menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Bahkan pada saat prosesi upacara pemakaman Mbah Liem pun juga tergolong tidak seperti umumnya, saat jenazah dipikul dari rumah duka menuju makam di Joglo Perdamaian Umat Manusia sedunia di komplek pesantren diarak dengan tabuhan hadrah sholawat Thola'al Badrun alainaa.  Proses pemakamannya seperti tentara menggunakan tembakan salvo yang dipimpin langsung oleh TNI/Polri hal itu dilaksanakan sesuai wasiatnya.

Mbah Liem seolah menutupi indentitasnya bahkan hingga wafat putra-purtinya tidak mengetahui persis tanggal lahirnya. Tentang silsilah pada akhir akhir hayatnya menurut informasi dari Gus Jazuli putra menantunya bahwa Mbah Lim pernah menulis di kertas bahwa ia masih keturunan keraton Surakarta.

Banyak orang mengatakan, bahwa Mbah Liem adalah Guru spiritualnya Gus Dur. Dalam struktur NU baik mulai tingkat bawah hingga pengurus besar nama Mbah Lim tidak pernah tercatat sebagai pengurus namun kiprahnya dalam menjaga dan membesarkan NU tidak absen sedikit pun. Mbah Liem walau pun tidak pernah menjadi pengurus NU namun selalu mejadi rujukan para kiai dalam menahkodai NU, bahkan Mbah Liem hampir pasti selalu hadir dalam setiap acara-acara PBNU mulai dari Konbes, Munas hingga Muktamar NU.


(Agus Fathuddin/CN40/SM Network)