• KANAL BERITA

Tradisi Nyadran Bisa Menjadi Forum Silaturahmi Para Ahli Waris

Usai memanjatkan doa bersama, dalam tradisi nyadran, pengunjung kembul bujono di kaki Bukit Trunojoyo, Cokro, Grabag, Magelang. (suaramerdeka.com/Tuhu Prihantoro)
Usai memanjatkan doa bersama, dalam tradisi nyadran, pengunjung kembul bujono di kaki Bukit Trunojoyo, Cokro, Grabag, Magelang. (suaramerdeka.com/Tuhu Prihantoro)

MAGELANG, suaramerdeka.com - Tradisi nyadran sangat diresapi para ahli waris leluhur yang dimakamkan di TPU (Tempat Pemakaman Umum) Trunopolo, Desa Cokro, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang. Ritual tradisi itu dimaksudkan, untuk mendekatkan diri pada Tuhan, memperbaiki hubungan baik dengan masyarakat dan lingkungan, serta menunjukkan bakti kepada para leluhurnya.

Kesempatan itu menjadi forum silaturahmi para ahli waris yang telah bermukim di berbagai daerah di Pulau Jawa. Mereka pulang kampung untuk nyadran, yang dilaksanakan menjelang datangnya Ramadan.

Akibatnya jalanan di Cokro Minggu (21/4) pagi menjadi ramai. Puluhan mobil parkir di pinggir jalan. Ditambah adanya live musik menghibur ratusan tamu yang berdatangan dengan berpakaian layaknya seperti akan salat Idul Fitri. Yang perempuan mengenakan baju muslim, sedangkan pria baju koko, pecis serta sarung atau celana panjang.

Sebagian datang dengan tangan kosong, tetapi yang tinggal di Desa Cokro, tiap kepala keluarga membawa rantang, bakul atau tenong berisi menu masakan khas nyadran, yakni nasi opor ayam/itik, sambal goreng kentang/tahu, bihun/mi goreng, kerupuk.

Di kompleks TPU Trunopolo pengunjung langsung menyebar ke makam luluhur masing-masing. Setelah itu memanjatkan doa bersama yang dipimpin Kiai Sueb, pimpinan pondok pesantren setempat.

Pada kesempatan itu Ketua Panitia Nyadran Suhartono melaporkan besarnya sumbangan dan penggunaan sumbangan nyadran tahun lalu.

Usai tahlil, pengunjung khususnya dari luar kota “diwajibkan” mampir ke sebuah pendopo di kaki Bukit Trunopolo, untuk kembul bujono (makan bersama). Sedangkan warga setempat juga kembul bujono di halaman sebelah timur pendopo. Yang dimakan mereka adalah menu nyadran yang dibawa dari rumah, dengan berlambarkan pelepah daun pisang. Masing-masing pengunjung bisa memakan makanan yang dibawa pengunjung lain.


(Tuhu Prihantoro/CN40/SM Network)