• KANAL BERITA

Hidran Rawan Disalahgunakan

HIDRAN PILAR  : Sebuah hidran pilar terpasang di persimpangan Jalan KS Tubun. (Foto suaramerdeka.com/Yoma Times Supriadi)
HIDRAN PILAR  : Sebuah hidran pilar terpasang di persimpangan Jalan KS Tubun. (Foto suaramerdeka.com/Yoma Times Supriadi)

SOLO, suaramerdeka.com - Salah satu penyebab kebocoran air hidran, lantaran hidran tersebut rawan dan mudah dibuka disalahgunakan beberapa orang. Oleh karenanya, Pemkot perlu menata ulang status hidran agar manajemen pengelolaan piranti vital pengendali kebakaran tersebut bisa dimaksimalkan.

"Sementara ini pemeliharaan hidran menjadi tanggung jawab kami, sebab ini berhubungan dengan penyediaan air. Sayangnya beberapa hidran mudah dibuka oknum yang tidak bertanggung jawab, sehingga penggunaan airnya menjadi kurang jelas,’’ kata Direktur Teknik Perusahaan Umum Daerah Air Minum Surakarta, Tri Atmojo, Jumat (19/4).

Tri menyebutkan, di citywalk Jalan Slamet Riyadi, pedagang kaki lima (PKL) membuka hidran untuk keperluan air. Meski kebocoran air PDAM dari pemanfaatan hidran kecil, namun status air tersebut perlu dipertegas demi optimalisasi penggunaan aset perusahaan tersebut.

"Sebenarnya kebocoran dari air hidran itu di bawah 1 persen, sementara kebocoran kami berdasarkan laporan berkisar 44 persen. Namun tetap saja angka itu dianggap Non Revenue Water (NRW) atau air yang tidak terjual."

Tri mengakui dengan ketidakjelasan status kepemilikan hidran tersebut menjadikan manajemen PDAM Surakarta merugi lantaran air yang digunakan dikategorikan sebagai kebocoran.

"Kami sedang berkoordinasi dengan instansi terkait lainnya, untuk memperjelas aset hidran itu milik siapa. Sebab dalam penghitungan kami, air yang diambil dari hidran itu termasuk air resmi tidak berekening dan merupakan kebocoran," ungkap.

Apalagi hidran-hidran di Solo belum dilengkapi meteran air. "Jadi langsung terkoneksi dengan jaringan pipa di bawahnya. Tidak ada batasan penggunaan airnya," terang Tri.

Merujuk data Pemkot, seluruh hidran di Solo berjumlah 103 buah. Hidran itu terdiri dari 46 hidran tanam dan 57 hidran pilar. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Gatot Sutanto membenarkan jika mulai tahun ini Pemkot mengintensifkan koordinasi dengan manajemen PDAM, perihal pemeliharaan hidran.

"Kami mulai menggandeng PDAM, karena yang memahami teknis jaringan pipa adalah instansi itu. Pemetaan ulang titik hidran juga sedang dilakukan, karena beberapa hidran tidak lagi efektif. Misalnya akses hidran pilar mepet dengan bangunan lain, dan sebagainya," kata Gatot. 


(Agustinus Ariawan/CN19/SM Network)