• KANAL BERITA

Tiga Guru Besar Siap Ramaikan Sastra Bulan Purnama

Dr Novi Indriastuti (suaramerdeka.com/Sugiarto)
Dr Novi Indriastuti (suaramerdeka.com/Sugiarto)

BANTUL, suaramerdeka.com - Sastra Bulan Purnama edisi 91 yang akan digelar Selasa (23/4) Pukul 19.30 WIB di Tembi Rumah Budaya, Jalan Parangtritis Km 8,5, Dusun Tembi, Desa Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, sangat berbeda dengan biasanya dengan tampilnya tiga guru besar dari perguruan tinggi ternama di Jateng dan DIY. 

Ketiga guru besar yang bakal memriahkan Sastra Bulan Purnama tersebut, adalah Prof Dr Budi Wignyosoekarto, Guru Besar UGM, Prof Dr RM Teguh Supriyanto, Guru Besar Unesa, Semarang dan Prof Dr Harno Pranowo, Guru Besar Fakultas Mipa UGM. Acara kali ini, diisi dengan peluncuran buku puisi fotografi karya Novi Indrastuti dan Harno Depe berjudul 'Tapak Jejak Peradaban'. 

Sebenarnya kolaborasi puisi dan fotografi seperti ini, sudah beberapakali dilakukan oleh Novi dan Harno. Keduanya seperti tidak mau memisahkan antara puisi dan fotografi, sehingga dua karya tersebut selalu bersandingan. Bagi keduanya, fotografi mempunyai suasana puitis dan puisi mengandung visual fotografis. 

Seperti pengakuan Novi Indrastuti yang sehari-harinya sebagai pengajar di jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya UGM, dan Harno Dwi Pranowo, Guru Besar UGM dan mengajar di Fakultas Mipa UGM. Keduanya, juga pernah tampil dalam Sastra Bulan Purnama.

Dalam perhelatan kali ini, selain tiga guru besar dari perguruan tinggi ternama di Jateng dan DIY. Tentunya, Dr Novi Indrastuti, sebagai penyair akan tampil di awal sebelum para guru besar tampil membacakan puisi karyanya.

Selain akan tampil membaca puisi, Armansyah Prasakti SNot MH seorang notaris dan dari ISI Yogyakarta, Prima Dona Hapsari SPd MHum seorang pegiat museum RM Donny Surya Megananda juga akan ikut tampil membacakan puisi karya Novi Indrastuti.
    
Jadi, selain akan dibacakan tiga guru besar, puisi Novi Indrastuti juga akan dibacakan oleh para pembaca yang memiliki profesi berbeda. Selain itu, beberapa puisi Novi juga akan digarap menjadi lagu oleh Nyoto Yoyok dan Ana Ratri. 

Keduanya sudah sering pentas lagu puisi, tidak hanya di Sastra Bulan Purnama, tetapi di tempat-tempat lain, termasuk di luar Kota Yogyakarta. Bagi Yoyok dan Ana Ratri, puisi tidak hanya dibacakan, tetapi bisa diolah menjadi lagu, namun nuansa puisinya tidak hilang.

''Setiap mengolah puisi menjadi lagu, saya berusaha menjaga agar puisinya tetap kental, dan lagunya tidak jatuh menjadi sejenis lagu pop,'' jelas Nyoto Yoyok.

''Jadi meski kita nyanyikan, namun nuansa puisinya masih tetap ada,'' katanya lagi.

Sementara Ons Untoro, selaku koordinator Sastra Bulan Purnama mengatakan, Novi dan Harno, keduanya memiliki kepekaan menangkap momentum puitis, hanya keduanya berbeda dalam merespon. Harno menangkap momentum melalui kamera dan Novi menuliskannya dalam bentuk puisi.

''Momentum puitis yang ditangkap oleh Novi dan Harno, dirajut menjadi satu buku puisi-fotografi dan diluncurkan di Sastra Bulan Purnama,'' kata Ons Untoro, kemarin.

''Saya pikirk ini sesuatu yang menarik dan apik,'' imbuhnya.

Sebelumnya, Harno dan Novi menerbitkan buku sejenis di tahun 2018 dan diberi judul ‘Kepundan Kasih’. Dalam buku puisi-fotografi ini, Harno menyajikan foto-foto yang obyeknya diambil diberbagai kota, tidak hanya obyek di Yogyakarta.

''Setiap kali saya pergi memang tidak lupa membawa foto. Setiap momentum selalu akan saya bidik dari lensa kamera saya. Semua kenangan atau pemandangan yang kami lihat selalu saya abadikan,'' ujar Harno. 
    
Ons Untoro menjelaskan, Sastra Bulan Purnama yang sudah berjalan lebih dari 7 tahun ini, mengutamakan peluncuran buku puisi. Penyair dari berbagai kota pernah tampil di Sastra Bulan Purnama meluncurkan buku puisi karyanya. 

Namun ada juga yang meluncurkan novel, seperti dilakukan Yudhistira Massardi dan Noorca Massardi pada 20 Februari 2019 lalu. Dalam acara itu, kedunya meluncurkan novel dalam judul yang bebeda.


(Sugiarto/CN42/SM Network)