• KANAL BERITA

Mengapa Pasar Wonokerto Senilai Rp 4,6 Miliar Masih Sepi

MASIH SEPI : Pasar Wonokerto Kecamatan Sale yang menelan anggaran miliaran rupiah dan sudah hampir setahun ini diresmikan sampai sekarang masih sepi dari aktivitas jual-beli. (suaramerdeka.com/Ilyas al-Musthofa)
MASIH SEPI : Pasar Wonokerto Kecamatan Sale yang menelan anggaran miliaran rupiah dan sudah hampir setahun ini diresmikan sampai sekarang masih sepi dari aktivitas jual-beli. (suaramerdeka.com/Ilyas al-Musthofa)

REMBANG, suaramerdeka.com – Keberadaan pasar di Kecamatan Sale beberapa tahun belakangan cukup menjadi masalah. Tiga pasar yang sudah beroperasi lama, masing-masing di Sale, Tahunan serta Mrayun di kecamatan ujung timur Rembang itu tidak beroperasi secara reguler setiap hari.

Hal itu yang disinyalir menjadi salah satu penyebab, roda perekonomian masyarakat di sana masih belum berkembang secara signifikan. Untungnya, pada tahun 2017 Pemkab Rembang mendapatkan kucuran dana tugas pembantuan APBD untuk alokasi pasar tradisional.

Lokasinya berada di Desa Wonokerto, sehingga pasar tersebut diberi nama Pasar Wonokerto. Pasar yang dibangun dengan anggaran sekitar Rp 4,6 miliar tersebut diresmikan pada Juni 2018 silam dan beroperasi secara reguler setiap hari.  

Sayangnya, hampir setahun setelah diresmikan aktivitas pada pasar dengan kapasitas 237 pedagang tersebut masih sepi. Bahkan, aktivitas jual-beli sudah nyaris tidak terjadi ketika jam dinding menunjukan pukul 09.00.

Saat Suara Merdeka berkunjung ke pasar itu beberapa hari yang lalu, hanya ada tiga kios yang masih buka. Padahal, saat itu waktu masih menunjukan pukul 09.00. Di bagian dalam pasar, bahkan tidak ada satu pun pedagang yang masih beraktivitas saat itu.

Penjaga Pasar Wonokerto, Suripto mengatakan, sepinya aktivitas jual-beli sudah terjadi sejak pertama kali pasar diresmikan. Rata-rata, setiap hari kurang dari 30 pedagang yang aktif berjualan.

Rinciannya, 22 sampai 23 pedagang di pasar bagian dalam, dan 5 pedagang di bagian pasar depan. Kebanyakan, para pedagang berjualan sembako yang merupakan kebutuhan warga setiap hari.  

“Setiap hari bagian dalam ada sekitar 22 pedagang yang aktif. Mereka sudah beraktivitas sejak pukul 03.30. Tetapi, pada pukul 07.30 aktivitas pasar sudah sepi. Mungkin karena pedagang kurang lengkap,” terang Suripto yang juga berdagang telor itu.

Ia juga menyebut, beberapa fasilitas pasar juga masih kurang. Fasilitas itu di antaranya adalah penampungan air untuk kamar mandi. “Kalau saluran ada, kamar mandi dan WC juga berfungsi. Untuk meramaikan perlu peran Kades,” ujarnya.

Seorang pedagang, Warti mengatakan, dari sisi penghasilan lebih baik di pasar baru dari pada pasar sebelumnya. Hanya saja, ia mengakui dari sisi barang dagangan dan pedagang Pasar Wonokerto masih belum lengkap.

“Saya buka mulai pukul 05.00. Dari sisi hasil saya enak di pasar baru. Tetapi jumlah pedagang masih sepi. Pedagangnya kurang lengkap. Pedagang sandal dan sepatu saja tidak ada. kebanyakan pedagang sembako. Lokasinya yang masuk mungkin juga menjadi penyebab sepinya pasar,” tandasnya.


(Ilyas al-Musthofa/CN39/SM Network)