• KANAL BERITA

Tinggal Enam Pedagang Galabo Bertahan

GELAR DAGANGAN: Salah seorang pedagang eks Sunday Marker Manahan, menggelar barang jualannya di lahan parkir Galabo, Solo, Minggu (24/3). (Foto suaramerdeka.com/Ilham Baktora)
GELAR DAGANGAN: Salah seorang pedagang eks Sunday Marker Manahan, menggelar barang jualannya di lahan parkir Galabo, Solo, Minggu (24/3). (Foto suaramerdeka.com/Ilham Baktora)

SOLO, suaramerdeka.com – Omzet sejumlah pedagang di lahan parkir Galabo car free day (CFD), Solo menurun, lantaran pembeli lebih memilih berada di area CFD Slamet Riyadi. Sejak awal tahun ini, kawasan Galabo sepi, pedagang berangsur-angsur meninggalkan lokasi itu, tinggal enam PKL yang bertahan.

‘’Awal Oktober 2018 lalu pendapatan pedagang mulai terasa baik. Seluruh lahan parkir Galabo dipenuhi para pedagang dan pembeli mulai ramai berdatangan. Namun, awal 2019 lalu beberapa pedagang meninggalkan lokasi berjualan dan saat ini  hanya tersisa sedikit pedagang,’’ kata Hartono, salah seorang pedagang kaos kaki di lahan parkir Galabo, Minggu (24/3).

Menurutnya, mulai Januari lalu, proyek peningkatan Jalan Jenderal Sudirman menjadi faktor menurunnya minat pembeli datang ke lokasi setempat. ‘’Hampir seluruh pedagang kuliner bangkrut dan pindah ke lokasi lain. Adapun  pedagang yang bertahan hanya tersisa enam orang.’’

Salah seorang pedagang pakaian, Nur Aisyah mengungkapkan, adanya peningkatan jalan di Bundaran Gladag, membatasi ruang gerak pengunjung CFD yang datang dari arah barat, sehingga mereka terhenti di bundaran Gladag lantaran penutup jalan yang terpasang.

‘’Kami rasa pemicu lainnya adalah penutupan jalan di Bundaran Gladag. Pengunjung CFD tak diberi akses jalan ke lahan parkir Galabo, sehingga pedagang banyak yang rugi lantaran tak ada pembeli. Kami harap Dinas terkait segera mengambil sikap untuk menghidupkan lokasi jual beli yang sudah diresmikan 30 September 2018 lalu,’’ kata Aisyah.

Berbeda dari Sumiati, pedagang di kawasan city walk CFD zona 11 mengaku pendapatan mengalami peningkatan.  ‘’Awal pindah ke kawasan baru ini banyak persoalan terjadi. Mulai berseteru dengan pedagang lama, hingga masih kerap berpindah tempat lantaran pemilik usaha di depan city walk mengeluh karena keberadaan kami.’’

Namun kami tetap berusaha membuka lapak walau harus memberi pemahaman, sehingga pendapatan kami mulai meningkat stabil walau sedikit. Namun, dia tetap berharap, Pemkot bersedia membuka kembali lokasi di Sunday Market Manahan.

‘’Harapannya bisa kembali ke lokasi utama Manahan sudah menjadi ikon pedagang saat hari Minggu.  Saya berjualan sejak PKL di Jalan Adi Sucipto, kami diarahkan masuk ke dalam kompleks Stadion Manahan,’’ ungkap dia.

Kepala Bidang PKL Dinas Perdagangan, Didik Anggono menuturkan mengembalikan pedagang ke kompleks Stadion Manahan sulit direalisasikan. Pembagian pedagang ke tiga titik lokasi sudah diperhitungkan dan pedagang harus menerima.


(M Ilham Baktora/CN19/SM Network)