• KANAL BERITA

Kebijakan Mengistimewakan Bulog Diprotes Kalangan Importir

Boleh Impor Bawang Putih

Foto: istimewa
Foto: istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Ketua Umum Asosiasi Hortikultura Nasional Anton Muslim Arbi menanggapi impor tanpa wajib tanam.  Menurutnya, pemerintah punya intensi baik untuk meningkatkan produksi bawang putih nasional dengan RIPH pada Permentan Nomor 38 Tahun 2017. Namun, dengan memberikan diskresi menafikan peraturan wajib tanam ini, produksi bawang putih lokal, diabaikan.

Kebijakan mengistimewakan Bulog ini membuat kalangan importir protes. Sejumlah importir yang berinisial B, W, A, dan T mengungkapkan kekecewaannya. Pasalnya, kondisi tersebut jelas merugikan dan membuat ketidaksetaraan dalam perdagangan komoditas ini di pasaran.

Harga jual bawang putih yang mereka pasarkan akan kalah saing dengan milik Bulog. Dikarenakan BUMN Bulog tidak memiliki beban tanam untuk memenuhi syarat kuota impor. “Yang kita pertanyakan satu, mereka tidak perlu tanam sedang kita perlu tanam.Kita sebagai importir berantakan semua dong,” keluh pengusaha impor berinisial B.

Pengusaha B dan W menceritakan, pihaknya membutuhkan kurang lebih Rp 5 miliar untuk menanam 20 hektare lahan bawang putih sebagai syarat agar bisa impor. Belum lagi jika harus menghitung beban bagi hasil yang harus diberikan pada petani. Sebab selama ini sejumlah importir juga turut bekerja sama dengan petani untuk memenuhi syarat kuota impor.

Selain itu, importir  juga khawatir akan ke mana nantinya Bulog memasarkan komoditas itu nantinya. Apalagi hingga kini impotir masih belum bisa melakukan impor lantaran RIPH tak kunjung dikeluarkan. Padahal banyak importir mengajukan impor sejak Januari lalu.

Sementara itu menurut importir dengan inisial A dan W, harga bawang putih saat ini belumlah terlalu tinggi. Sehingga, intervensi dari Bulog guna stabilisasi yang bernuansa 'darurat' belum lah diperlukan. Harga tinggi di pasar saat ini hanya terjadi pada bawang putih jenis premium saja, yaitu berkisar Rp 40.000 hingga Rp 45.000.

Sementara bawang putih yang umumnya dikonsumsi masyarakat masih dijajakan dengan harga yang relatif stabil antara Rp 26.000 hingga Rp 27.000. “Barang yang umumnya digunakan masyarakat itu bawang honan. Yang umumnya dijual dari importir itu Rp19.000-Rp20.000,” jelas A.

Ia pun menolak diskresi yang diberikan pada Bulog untuk mengimpor bawang putih. Pasalnya selama ini sebenarnya juga ada BUMD yang melakukan impor, tapi mereka juga tetap mematuhi prasyarat tanam lima persen tersebut.

 


(Kartika Runiasari/CN26/SM Network)