• KANAL BERITA

Didorong IPO, Perusahaan Dapat Akses Pendanaan Lebih Mudah

Sosialisasi Terpadu Pasar Modal 2019

PASAR MODAL: Kepala OJK Regional 3 Jateng DIY Aman Santosa, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen dan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Inarno Djayadi saat menyampaikan progress perkembangan pasar modal di Semarang. (suaramerdeka.com / Modesta Fiska)
PASAR MODAL: Kepala OJK Regional 3 Jateng DIY Aman Santosa, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen dan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Inarno Djayadi saat menyampaikan progress perkembangan pasar modal di Semarang. (suaramerdeka.com / Modesta Fiska)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama dengan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus mendorong perusahaan di Jawa Tengah untuk bisa
menjadi Perusahaan Terbuka yang sahamnya dicatatkan di BEI. Upaya ini dilakukan agar perusahaan bisa lebih mudah mendapatkan akses pendanaan melalui pasar modal. Saat ini tercatat sembilan emiten saham dan satu emiten obligasi di Jateng.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Hoesen mengungkapkan, penjajakan terhadap perusahaan yang potensial masih terus dilakukan dan melalui Sosialisasi Terpadu Pasar Modal 2019 ini diharapkan bisa lebih banyak lagi yang bisa mencatatkan diri di BEI. Selain itu sosialisasi juga sekaligus bentuk ajakan persuasif kepada masyarakat untuk menjadi investor di pasar modal.

"Instrumen ini bisa digunakan pengusaha untuk mendapatkan dana. Dari sisi emiten secara nasional masih kecil, di luar sana banyak perusahaan berpotensi menjadi perusahaan publik. Jangan tunggu besar dulu baru IPO, justru bagaimana perusahaan bisa jadi besar dari pasar modal," ujar Hoesen kepada wartawan di Semarang, Kamis (14/3).

Hadir dalam kesempatan ini Kepala OJK Regional 3 Jateng DIY Aman Santosa dan Direktur Utama BEI Inarno Djayadi. Secara umum investor pasar modal sektor saham di Jateng per Desember 2018 masih berjumlah 81.408 saja.

Jika dibandingkan dengan penduduk Jateng yang lebih dari 34 juta jiwa maka yang berinvestasi di sektor saham baru sekitar 0,24 persen dari total penduduk. Dengan makin berkembangnya perusahaan efek serta galeri investasi BEI di Jateng yang mencapai 40, maka wilayah ini menjadi salah satu fokus dalam pengembangan industri pasar modal ke depan.

Upaya untuk menyosialisasikan kepada perusahaan terkait ajakan menjadi Perusahaan Terbuka juga dengan menggandeng Apindo dimana ada lebih 1.600 perusahaan di dalamnya.

BEI sendiri mencatat transaksi harian bisa mencapai Rp 8,5 triliun dengan frekuensi transaksi 386 ribu per harinya. Dan sejak diterapkannya T+2 pada November lalu, volume transaksi per hari bisa melampaui Rp 10 triliun, pun dengan frekuensi harian yang sekarang mencapai 439 ribu transaksi atau naik sekitar 17 persen. "Kami targetkan sebanyak-banyaknya perusahaan bisa listing di bursa, sosialisasi terus dilakukan di daerah-daerah dan Jateng ini wilayah yang sangat potensial," terang Inarno.


(Modesta Fiska/CN26/SM Network)