• KANAL BERITA

Mufakat Budaya Indonesia 

Laknat dan Kianat yang Membiarkan Indonesia Hancur 

Foto suaramerdeka.com/Benny Benke
Foto suaramerdeka.com/Benny Benke

JAKARTA, suaramerdeka.com - Paska Pilpres pada 17 April mendatang,  siapapun yang menang dalam Pemilu Presiden,  Indonesia pasti ribut.  "Itu yang saya dengar. Ini ngga bener.," kata Radhar Panca Dahana saat membacakan Pernyataan dan Imbauan, Mufakat Budaya Indonesia (MBI) di Warung Apresiasi (Wapres) , Bulungan,  Jakarta,  Selasa (12/3) petang. 

Dia melanjutkan,  kalau mayoritas yang melek kebudayaan,  tapi menjadi the silent majority,  terus terjadi seperti sekarang,  itu menjadi berbahaya. 

"Kita harus mengekspresikan diri lewat kebudayaan. Kalau kebudayaan tidak bersuara,  maka Indonesia bisa pingsan,  dan menjadi zombie. Bagi yang menbiarkan Indonesia hancur karena perpecahan politik seperti sekarang, maka ia adalah kianat dan laknat," pekikya. 

Hal senada dikatakan Dr.  Donny  Gahral Adian. Menurut pengajar Filsafat UI itu,"Indonesia di ambang kehancuran. Karena perang politik telah membelah republik ini," katanya. 

Menurut dia,  Indonesia akan menghadapi kejadian seperti di Suriah, Sudah,  Libia dan banyak negara lainnya, jika membiarkan ketegangan politik ini berlarut larut. 

"Yang bisa mengobati ini hanya Budaya. Setelah politik praktis membelah bangsa Indonesia. Budayalah obatnya. Padahal perpecaham ini sangat diinginkan kekuatan asing.  Balkanisasi terjadi di negara lain jangan sampai terjadi di Indonesia," kata Donny Gahral. 

Berdasarkan pemahaman itulah, perlu ada kekuatan moral supaya perpecahan yang dicemaskan seperti sekaranfg, tidak terjadi.

Untuk itu Mufakat Budaya Indonesia (MBI) , atau forum musyawarah seniman, budayawan, cendekiawan dan ilmuwan dengan anggota dari seluruh provinsi Indonesia. Menyampaikan imbauan pada masyarakat luas, untuk terus menjaga keadaban publik,  agar Indonesia tetap damai untuk semua warganya. 

Radhar Panca Dahana, selaku koordinator, didampingi Adi Kurdi, Niniek L Karim, Donny Gahral A, Toni Q, Renny Djajoesman, Dindon WS, Olivia Zalianty, Anto Baret dan beberapa nama lainnya,  atas nama MBI menyerukan sikapnya. 

"Menyikapi perkembangan mutakhir peri kehidupan sosial-politlk-kultural di Indonesia, dimana terjadi peningkatan intensitas ketegangan antarwarga bangsa MBI  menyerukan pernyataan dan imbauan sikapnya, " kata Radhar.

Menurut MBI,  perpecahan kelompok masyarakat yang didasari oleh perbedaan sukubangsa, semakin memprihatinkan. 

Perpecahan dari agamal dan keyakinan. Hingga , bahkan terutama, pilihan politik. yang terjadi sampai pada tingkat personal dan hubungan keluarga/rumah tangga, semakin nyata. 

Konflik horisontal dan vertikal akibat perpecahan di atas, hingga pada tingkatan fisik yang melibatkan siapa saja,  bahkan antarsahabat, hingga anggota keluarga, sangat membahayakan Indonesia. 

"Yang memberi makan pikiran dam hati adalah kebudayaan. Saatnya kita berbalik kepada kebudayaan,  sebelum bangsa ini hancur sebagai sebuah bangsa. Kita ingin Indonesia Raya umurnya ribuan tahun. Karena modalnya sangat cukup"  imbuh Donny Gahral. 

Menurut Radhar Panca Dahana., pernyataan dan imbauan MBI sudah disampaikan ke beberapa pucuk pimpinan Politik di Indonesia.  

"Tapi para pucuk pimpinan politik,  juga lembaga pemikir lainnya,  sudah budeg hati dan pikirannya," katanya. Mereka hanya berpikir tentang kekuasaan belaka, atas nama kepentingan golongannya. 

Meski demikian MBI meyakini,  gerakan budaya ini,  sebagaimana ditekankan Niniek L.Karim tetap akan memberikam dampak penting demi menjaga keutuhan Indonesia. 

"Mari kita suarakan kebudayaan agar Indonesia tetap ada," kata Niniek L. Karim. 


(Benny Benke/CN19/SM Network)