• KANAL BERITA

SmartPoint Jawab Kebutuhan Belajar Tanpa Hadir di Sekolah

Anak-anak terlibat dalam sistem belajar interaktif dengan permainan kreatif. (foto ilustrasi)
Anak-anak terlibat dalam sistem belajar interaktif dengan permainan kreatif. (foto ilustrasi)

SELAMA ini sekolah didesain bukan untuk anak belajar, tapi untuk guru bekerja. Karena itu, maka dalam belajar tidak harus sekolah, tapi bisa di rumah atau di mana saja. Hal itu dikatakan Prof Daniel M Rosyid PhD, Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh November dalam sebuah Kuliah Umum yang diselenggarakan oleh BEM ITS Surabaya.

Menurut dia, siswa yang bisa belajar di lingkungan sekolah, belum tentu terampil untuk menyikapi fenomena lingkungan sosial. Tetapi siswa yang sudah terampil dalam menghadapi fenomena sosial, sudah tentu dia akan sukses belajar di dunia sekolah. Kedua ruang lingkup ini memiliki hubungan erat dalam membentuk karakter dan kepribadian siswa. Yang dimaksud dengan belajar tidak harus di ruang sekolah itu adalah dengan munculnya metoda belajar melalui online, salah satunya melalui YouTube.

SmartPoint yang saat ini sedang dikembangkan oleh Dreamlight World Media (DWM), Ungaran, Kab Semarang adalah salah satu caranya. "SmartPoint adalah pembuat materi edukasi yang sederhana, ringkas dan langsung pada intinya. Sehingga semua orang mendapat kesempatan dan akses pendidikan yang sama untuk memahami pelajaran dalam hitungan detik melalui point-point utama," kata Heru Tanaya, COO Dreamlight World Media, Senin (11/3).

"Kami menyediakan banyak video kreatif untuk bahan ajar anak, pendidik berdasarkan kelompok usia, mulai dari usia PAUD, usia sekolah sampai orang dewasa. Kami sediakan konten video, training dan event yakni aksi seru dan menarik. Juga Online School yang bisa diakses di mana saja dan kapan saja. Serta Store Smart yakni penggunaan ragam alat peraga dan permainan edukatif," tambahnya.

Fenomena belajar sambil bermain ini di kalangan praktisi pendidikan disambut positif. "Belajar melalui online dirasakan sangat bermanfaat. Karena itu bisa memberikan pembelajaran yang menarik, variatif dan fleksibel. Guru akan kesulitan mencari bahan riil sebagai pembelajaran sesuai tema. Misalnya untuk menerangkan binatang katak, tentunya sulit menghadirkan katak dalam wujud asli, maka bisa dilihat secara online melalui YouTube," kata Silviana Endang, praktisi PAUD, tinggal di Semarang.

Tutorial Origami

Dalam praktiknya, para pendidik usia dini akan sangat mudah mengajak anak didiknya masuk ke dalam situasi berlajar sambil bermain. Filsuf Yunani, Plato, merupakan orang yang pertama dan melihat pentingnya nilai praktis dan bermain. Anak-anak akan lebih mudah, misalnya mempelajari aritmatika melalui situasi bermain. Istilah bermain diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan dengan menggunakan atau tanpa menggunakan alat yang menghasilkan pengertian, dan dapat mengembangkan imajinasi anak.

SmartPoint, saat ini sedang merampungkan video tutorial tentang origami atau seni melipat kertas. Ini adalah salah satu konten SmartPoint yang bisa dipraktikkan langsung, misalnya membuat binatang lucu seperti kupu-kupu, kelinci, anjing, katak, tikus, kepiting, kucing, panda, ayam, burung, kura-kura, penguin. Benda seperti kapal, perahu, bunga, rumah, pohon, pesawat, kamera, baju, dan masih banyak lagi.

"Origami salah satu konten seru dari SmartPoint. Kami mengajak YouTube terutama anak-anak untuk berkreasi melalui seni melipat kertas. Dengan demikian, anak-anak dapat melatih kreativitas yang berperanan pada perkembangan otak kanan mereka," kata Yefta Eko Nugroho, Quality Control Officer program origami SmartPoint, Selasa (12/3).

Tidak hanya untuk anak-anak dan remaja, seni origami ini juga cocok untuk mereka yang berusia dewasa terutama guru-guru PAUD dan TK guna engembangkan metoda pembelajarannya bagi anak-anak usia dini. Tutorial origami disiapkan untuk channel YouTube mulai Kamis lusa (14/3).

Untuk itulah, maka SmartPoint akan menjawab kebutuhan belajar tanpa mewajibkan anak untuk hadir di sekolah. Dengan mengakses www.smartpoint.id, siapa pun mereka, baik anak, orang tua dan pendidik akan mendapatkan konten yang bervariatif, positif, edukatif.


(Bambang Isti/CN40/SM Network)