• KANAL BERITA

Mengembangkan Potensi Lokal Kopi Kudu

Seminar Digital Marketing

BUAT KOPI KUDU: Warga Kudu bersama TIM KKN posko 85 UIN Walisongo Semarang belajar membuat Kopi dari bahan buah mengkudu di Aula Balai Kelurahan Kudu Kecamatan Genuk Semarang. (suaramerdeka.com / Pamungkas Suci Ashadi)
BUAT KOPI KUDU: Warga Kudu bersama TIM KKN posko 85 UIN Walisongo Semarang belajar membuat Kopi dari bahan buah mengkudu di Aula Balai Kelurahan Kudu Kecamatan Genuk Semarang. (suaramerdeka.com / Pamungkas Suci Ashadi)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Banyak potensi lokal yang dimiliki masyarakat, namun selama ini masyarakat tidak sadar bahwa potensi tersebut dapat dikembangkan. Seperti halnya Kopi Kudu yang dibuat oleh warga Kelurahan Kudu. Kopi tersebut memiliki potensi ekonomi yang luar biasa jika warga ingin mengembangkannya.

Pernyataan itu, diungkapkan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (Febi) UIN Walisongo Semarang, Singgih Muheramtohadi saat mengisi seminar digital marketing dan pelatihan pembuatan kopi mengkudu di Aula Balai Kelurahan Kudu Kecamatan Genuk Semarang, belum lama ini.

Menurut Singgih, untuk mengembangkan potensi lokal Kopi Kudu tidak perlu memerlukan kios. Apalagi mengeluarkan biaya yang banyak untuk modal usaha, bahkan orang sekarang banyak yang menjual barang tanpa harus memiliki modal untuk berdagang. Cukup dengan mempromosikan barang orang lain melalui internet seseorang sudah dapat penghasilan. Begitupun dalam mempromosikan Kopi Kudu.

"Selama ini anggapan orang buah pace atau mengkudu tidak memiliki manfaat, rasanya pahit dan tidak disukai orang, bahkan ketika pace itu jatuh dari pohon diabaikan begitu saja. Namun ternyata buah pace tersebut memiliki potensi ekonomi jika mampu untuk mengolah dan mengembangkannya," ujarnya.

Adapun kandungan yang terdapat dalam buah mengkudu yaitu mengandung Scopoletin, Morindin, Gum, Asam Sitrat, dan juga senyawa Antiseptic. Kandungan buah mengkudu bermanfaat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit, seperti sakit kepala, tekanan darah tinggi, melancarkan pencernaan, mencegah kanker, asam urat, batuk, dan diabetes.

Begitu banyak kandungan yang terdapat dalam buah mengkudu. Selama ini masyarakat belum mengetahuinya. Karena itu, agar buah mengkudu dapat dikonsumsi masyarakat perlu disajikan dalam bentuk kopi.

"Maka Warga Kudu perlu diberikan pelatihan digital marketing, sehingga dapat memasarkan hasil produknya melalui media sosial yang banyak di jangkau masyarakat luas. Tentu dalam pengemasan kopi kudu dibuat menarik dan praktis, sehingga banyak orang yang tertarik, karena kopi Kudu merupakan ciri khas Kelurahan Kudu," imbuhnya.

Sementara itu, Koordinator Kelurahan Posko 85 KKN UIN Walisongo Semarang, Nur Rosyid mengatakan, seminar digital marketing diikuti 30 peserta. Mereka merupakan delegasi dari PKK RW se Kelurahan Kudu. Beberapa tamu undangan diantaranya, Sekretaris Lurah, Ketua FKK Kudu, dan sejumlah tokoh masyarakat Kudu.

Adapun Kopi Kudu pertama kali dibuat oleh bapak Zaidun warga Kelurahan Kudu. Namun masih terkendala dalam pemasaran, karena itu, dalam program KKN posko 85 tertarik untuk mengembangkan dan mempaking kopi dengan kemasan yang menarik sehingga tidak kalah dengan kopi yang lain. Kopi kudu yang dikemas dengan nama "Kudu Ngopi" sebagai simbol nama Desa Kudu yang masih banyak pohon mengkudu.


(Pamungkas Ashadi/CN26/SM Network)