• KANAL BERITA

Kekerasan dan Kekejaman Terjadi Akibat Agama Dipersepsi dengan Cara Salah

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KHM Cholil Nafis (dua dari kanan), Ketua Umum MUI Jateng, KH Ahmad Darodji, KH Ahmad Zubaidi dan KH Anasom serta dari AXA Mndiri menjadi pembicara Halaqah Dakwah dan Literasi Keuangan Syariah dengan tema ‘’Menjawab Tantangan Dakwah di Era Millenial’’ di aula Masjid Raya Baiturrahman, Jalan Pandanaran 126, Simpanglima Semarang. (suaramerdeka.com/Agus Fathuddin Yusuf)
Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KHM Cholil Nafis (dua dari kanan), Ketua Umum MUI Jateng, KH Ahmad Darodji, KH Ahmad Zubaidi dan KH Anasom serta dari AXA Mndiri menjadi pembicara Halaqah Dakwah dan Literasi Keuangan Syariah dengan tema ‘’Menjawab Tantangan Dakwah di Era Millenial’’ di aula Masjid Raya Baiturrahman, Jalan Pandanaran 126, Simpanglima Semarang. (suaramerdeka.com/Agus Fathuddin Yusuf)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Saat Nabi Muhammad Saw menerima risalah Islam, Allah SWT berpesan kepadanya dengan ungkapan pendek namun penuh makna: “wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin” (Aku [Allah] tidak mengutusmu kecuali untuk menebar kasih sayang pada penghuni alam) (QS, 21:107), dengan membawa peringatan dan kabar gembira (QS, 2: 119).

Mungkin pesan ini telah dibaca jutaan kali, tetapi maknanya tidak dikenali dan yang diamalkan malah sebaliknya. Lisannya keras dan kasar saat berdakwah. Amaliahnya saling menyakiti, memfitnah dan mem-bully. Sebagian lainnya malah menghalalkan segala cara untuk menyebarkan agamanya. Agama digunakan untuk melegitimasi ekstremisme dan terorisme. Demikian pendapat Dosen UIN FISIP Walisongo, Dr KH Abu Rokhmad Musaki.

"Negeri ini punya cerita panjang di mana ajaran agama disalahgunakan, seperti teror bom beberapa waktu lalu. Kemulian agama yang seharusnya diamalkan dengan lisan dan perilakunya, justru diwujudkan dalam bentuk intoleransi kepada sesama. Mereka seolah takut tidak kebagian surga, jika berbuat baik kepada kelompok yang berbeda," kata Abu Rokhmad Musaki.        

Dia menambahkan, Charles Kimball (2003) dalam When Religion Becomes Evil menyatakan, ketika agama dipersepsi, dipahami, dan dimanifestasikan dengan cara yang salah, maka agama memiliki potensi untuk menjelma menjadi penebar kekerasan dan kekejaman. Agama yang semestinya diyakini manusia sebagai garda depan penjaga ketertiban dan kedamaian di muka bumi, justru ditampilkan sebaliknya. Agama memunculkan polemik, kericuhan, pertikaian dan konflik di antara umat manusia.

"Interaksi intern dan antar umat beragama dipenuhi kecurigaan dan ketidakjujuran. Target yang diinginkan selalu sama, yakni mendominasi dan menguasai kelompok lain agar tunduk kepadanya. Ucapan dan perilakunya membuat orang-orang di sekitarnya merana dan meradang. Mereka kehilangan sensitifitas, apatis dan tidak peduli atas penderitaan kelompok yang berbeda," jelasnya.

Sudah seharusnya, sambungnya, agama diposisikan maqamnya fitri: sumber kebenaran dan kedamaian. Apa pun agamanya, memang benar menurut pemeluknya. Apa pun keyakinannya, kedamaian merupakan tujuannya. Dengan demikian, sekali pun berbeda cara tata beragamanya, tapi tujuannya sama: memakmurkan bumi, berbagi kasih sayang dan kedamaian di bumi ini.

Dalam sejarahnya, selalu ada manusia yang salah paham atau pahamnya yang salah dalam beragama. Hal itu dimulai saat agama—yang mulia dan agung itu bermetamorfosis menjadi semacam penganggu kedamaian atau penebar kebencian-kekerasan. Padahal, jika agama masih tetap di atas jalur semula dan sejalan dengan sumber otentiknya, niscaya ia menjadi agama yang penuh kesejukan dan kasih sayang.

"Menurut Kimball, ada empat tanda penyimpangan yang menunjukkan kapan sebuah agama menjelma menjadi bencana. Empat tanda itu juga merupakan ‘penyakit’ yang umumnya diderita oleh pemeluk agama," ujarnya.

Pertama, absolute truth claim yakni mengaku hanya agamanyalah yang benar sedang agama yang lain salah. Awalnya, klaim ini tidak ada yang salah karena setiap pemeluk agama harus meyakini secara absolut kebenaran agamanya. Yang kurang tepat adalah klaim itu dibarengi dengan sikap menyalahkan agama orang lain. Padahal, agama orang lain juga punya klaim yang sama. Ini adalah keyakinan yang berbahaya karena tidak mengakui pluralitas keyakinan di masyarakat. Padahal di dunia ini, tidak ada keyakinan tunggal. Allah Swt membiarkan seseorang itu mau beriman kepadaNya atau ingkar. Begitu pula, seluruh agama dibiarkan hidup oleh Allah Swt.

Kedua, blind obedience (taqlid al-a’ma), yakni taqlid buta. Ketaatan buta yang mengesampingkan akal sehat dan sikap kritis dalam memahami ajaran agama. Taqlid buta menjebak pemeluk agama dalam rongga doktrinasi yang tidak benar dan membuat mereka lupa terhadap fitrahnya sebagai makhluk sosial. Pada titik puncak, sikap taqlid buta melahirkan individu-individu yang lebih menghambakan diri pada ajaran agama dan bukan kepada Tuhan. Mereka, pada akhirnya bersikap asosial, menarik diri dari kemungkinan berdialog dengan masyarakat, dan lebih parah lagi, memiliki sentimen negatif kepada pemeluk keyakinan agama lain.

Ketiga, establishing the ‘ideal’ time, mendambakan atau mengharapkan membangun masa yang ideal. Agama akan menjadi rentan manipulasi dan menjadi sangat berbahaya apabila pemeluknya merasa menjadi wakil Tuhan di muka bumi, lalu berusaha merumuskan gagasan struktur ideal tentang negara atas nama titah langit, padahal secara de facto pelaksanaannya bergantung kepada ijtihad manusia. Sikap ini pada dasarnya baik, yang kurang tepat hanya cara untuk mewujudkannya.

Keempat, declaring holy war, mengobarkan semangat “perang suci” yang tidak pada tempatnya. Salah satu motivasi kuat yang melatarbelakangi kejadian terorisme di Indonesia adalah kebencian terhadap bangsa lain yang dianggap kafir dan merugikan umat Islam.

Mereka mengobarkan perang suci dalam skala kecil, dalam bentuk bom bunuh diri untuk melukai dan membuat takut warga negara asing. Perang suci—dalam Islam disebut jihad—sebenarnya tidaklah dibenarkan dilakukan dengan cara-cara teror, anarkis apalagi main belakang. Jihad harus dilakukan dengan yang fight, jantan dan tidak boleh melukai warga sipil yang tidak berdosa.

Keempat penyakit umat beragama ini bermuara kepada ketidaktotalan kita dalam beragama. Kadang-kadang, kita hanya menonjolkan aspek kecil dari ajaran agama, lalu merasa sudah paling benar dan sempurna. Pada waktu bersamaan kita melupakan ajaran agama yang lain. Terus belajar tentang agamanya sendiri maupun agama orang laian, akan membuat penganut agama makin dewasa.


(Agus Fathuddin/CN40/SM Network)