• KANAL BERITA

Bahan Pangan Mengandung Pewarna Tekstil Masih Beredar di Pasar Tradisional

Foto: Pemprov Jateng
Foto: Pemprov Jateng

PURBALINGGA, suaramerdeka.com - Tim Jejaring Keamanan Pangan Terpadu (JKPT) Kabupaten Purbalingga kembali menemukan bahan pangan yang mengandung Rhodamin B atau pewarna tekstil  yang berbahaya apabila dikonsumsi. Makanan yang positif mengandung Rhodamin B tersebut yaitu Kerupuk ‘Air Mancur’ dan Jenang Tape.

”Kita mengambil beberapa sample makanan seperti kerupuk, jenang tape dan beberapa sempe, setelah kita uji ada dua sample yang positif mengandung Rhodamin B yaitu jenang tapi kemudian kerupuk ‘Air Mancur’,” kata Kasi Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Alkes) pada Dinas Kesehatan Kabupaten Purbalingga, Sugeng Santoso, yang menjadi salah satu anggota tim JKPT Kabupaten Purbalingga, Kamis (21/2).

Dua bahan pangan yang positif mengandung Rhodamin B di kompleks Pasar Segamas ini bukan merupakan produk buatan orang Purbalingga. Dilihat dari label kemasan yang tertera pada kedua bahan pangan ini berasal dari Purwokerto.

”Nanti kita akan koordinasi dengan tim keamanan pangan di Purwokerto untuk dicek di sana untuk dicek ulang betul atau gak, jadi nanti dari Purwokerto bisa cek sendiri hasil uji sample keduanya,” ujar Sugeng.

Ia pun mengimbau kepada masyarakat Purbalingga untuk menghindari makanan yang sekiranya mengandung pewarna yang terlihat mencolok. Pasalnya, pembeli tidak dapat melihat secara kasat mata bahan pewarna yang terkandung dalam makanan yang dikonsumsinya.

Ia pun mengimbau kepada penjual kerupuk ‘Air Mancur’ dan Jenang Tape untuk tidak lagi menjual produk makanan tersebut. ”Selagi masih bisa dikembalikan, dikembalikan saja dan harapan kami (tim JKPT, Red) Purbalingga bisa terbebas dari bahan berbahaya seperti ini,” pungkas Sugeng.

Terpisah, Giat salah satu penjual kerupuk ‘Air Mancur’ ini mengatakan tidak tahu kalau kerupuk yang dijualnya mengandung pewarna berbahaya. Karena, kerupuk tersebut juga pernah dilakukan uji keamanan pangan beberapa tahun lalu bahkan dinyatakan berbahaya namun selang beberapa tahun kemudian setelah diuji kembali ternyata kerupuk tersebut sudah layak untuk dikonsumsi.


(Pemprov Jateng/CN41/SM Network)