• KANAL BERITA

Lempar Batu Sembunyi Tangan, Bukti Sikap Tidak Ksatria

Ketua Umum MUI Jawa Tengah, Dr KH Ahmad Darodji Msi. (foto: suaramerdeka.com/dok)
Ketua Umum MUI Jawa Tengah, Dr KH Ahmad Darodji Msi. (foto: suaramerdeka.com/dok)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Memukul dengan meminjam tangan. Pitutur itu sering dijelaskan dengan tumindak ala kanthi kongkonan wong liya. Demikian penjelasan Ketua Umum MUI Jawa Tengah, Dr KH Ahmad Darodji MSi.

"Kita sependapat dengan para sepuh yang memasukkan isi pitutur ini ke dalam kelompok perbuatan yang tercela. Pada peribahasa Indonesia, nasehat yang sekarang tidak diajarkan lagi itu, ada ungkapan "lempar batu sembunyi tangan" yang artinya hampir sama dengan ungkapan nabok nyilih tangan. Keduanya adalah perbuatan jahat tanpa adanya kemauan untuk bertanggung jawab dari pelakunya. Tentu ini adalah sikap tidak ksatria, tidak jantan atau pengecut," kata KH Ahmad Darodji.

Dalam permusuhan atau persaingan, lanjutnya, sering kita mendengar adanya intrik. "Intrik ini menjadi alat pihak yang berseteru. Mereka menyusun strategi jahat untuk mengalahkan lawan. Lawan perlu dijatuhkan, dikalahkan bahkan disingkirkan. Adakah kita di sana? Kalau sejenak kita renungkan, saat ini banyak orang melakukan hal itu tanpa menyadari kesalahannya. Ya, contohnya masih menjadi isu keseharian kita, hoax, berita bohong, fitnah dan ujaran kebencian adalah perbuatan jahat yang ditujukan kepada sasaran tertentu dengan meminjam tangan sebagian orang dan menggunakan media," jelasnya.

"Sebagian orang menviralkan dan menshare, maka tanpa sadar dia sudah menjadi tangan dari pembuat hoax dan sebagainya itu. Begitu pula media yang digunakan," jelasnya.

KH Ahmad Darodji menandaskan, pelajaran yang diambil dari pitutur ini adalah agar tidak menjadi pelaku nabok nyilih tangan dan juga agar tidak menjadi tangan untuk menabok orang lain. "Sejalan dengan pitutur ini mari kita baca S. Al Maidah yat 2  yang artinya : "Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan," tandasnya.


(Agus Fathuddin/CN40/SM Network)