• KANAL BERITA

Durian Gajah Mada Jadi Juara

Festival dan Lomba Durian Unggul Purworejo 2019

Para juara berfoto dalam Festival dan Lomba Durian Unggul Purworejo 2019 di DPPKP) Purworejo, Rabu (20/2). (suaramerdeka.com/Panuju Triangga)
Para juara berfoto dalam Festival dan Lomba Durian Unggul Purworejo 2019 di DPPKP) Purworejo, Rabu (20/2). (suaramerdeka.com/Panuju Triangga)

PURWOREJO, suaramerdeka.com – Durian dengan nama Gajah Mada asal Dusun Plaosan, Desa Blimbing, Kecamatan Bruno, berhasil menjadi juara I dalam Festival dan Lomba Durian Unggul Purworejo 2019, Rabu (20/2). Festival yang juga diramaikan dengan bazar durian ini berlangsung meriah dan dipadati pengunjung yang ingin memburu durian.

Ingin budidaya tanaman buah durian? Klik di sini untuk mendapatkan bibit tanaman durian yang bagus.

Pada lomba di event yang digelar Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Purworejo ini, Gajah Mada milik Euis Wijayanti berhasil meraih nilai tertinggi yakni 1.078 mengalahkan 32 peserta lain yang berasal dari kecamatan kecamatan.

Juara II diraih durian Sidenok (nilai 1.077) yang juga asal Dusun Plaosan, Desa Blimbing milik Budi Lestari. Sedangkan juara III disabet durian Gatut Kaca (1.003) asal Selanyah, Desa Ngaran, Kecamatan Kaligesing milik Heruyono.

“Alhamdulillah senang banget, tidak terduga. Juara satu, Gajah Mada, dan juara dua, Denok, milik saya dan istri,” ungkap Budi Lestari.

Budi menuturkan, pohon durian Gajah Mada sudah berumur ratusan tahun. Kelebihan buahnya memiliki bentuk yang besar, daging buah tebal, dan rasanya manis ada pahitnya. Pada musim ini bahkan pohon miliknya bersama istri ini menghasilkan sekitar 1.000 buah yang rata-rata harga per buahnya Rp 70 ribu hingga Rp 80 ribu.

“Harapan ke depan, bisa menjadi ikon. Semoga harga jualnya juga semakin bagus,” imbuhnya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura DPPKP) Purworejo yang juga Ketua Panitia, Eko Anang mengatakan, diselenggarakannya event ini untuk mencari varietas-varietas unggul yang nantinya akan dijadikan varietas unggulan Purworejo. Nantinya, pemenang lomba akan dipantau secara terus menerus selama tiga tahun terhadap stabilitas rasa, ketebalan, dan tekstur buah.

“Kemudian kalau stabil kita usulkan ke Kementerian Pertanian untuk dilepas sebagai varietas unggul lokal Purworejo. Untuk durian, sekarang kita baru punya satu varietas unggul lokal (durian Sekatap) yang sudah dilepas oleh Menteri Pertanian tahun 2018 kemarin,” ungkapnya.

Lomba kali ini diikuti 33 peserta dari sembilan kecamatan yang merupakan sentra durian di Purworejo. Kriteria penilaian meliputi rasa, ketebalan buah, dan tekstur buah. Tekstur buah ini termasuk kelembutan, sehingga semakin lembut dan legit maka nilainya semakin tinggi. Disamping itu juga penampakan luar, dan warna daging buah.

“Tim juri dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Jawa Tengah, UMP, dan dari ketua Asosiasi Pedagang Buah Purworejo,” imbuhnya.

Saat membuka festival tersebut, Bupati Purworejo, Agus Bastian mengatakan, jumlah populasi tanaman durian di Kabupaten Purworejo sekitar 210 ribu batang dan setara dengan 2.100 hektare, yang tersebar di sembilan kecamatan dengan aneka ragam jenis, bentuk dan citarasanya. Namun demikian dari jumlah tersebut baru ada satu tanaman induk yang telah dirilis oleh Menteri Pertanian sebagai varietas durian unggul lokal Purworejo, yaitu durian “Sekatap” yang berasal dari Desa Kalitapas, Kecamatan Bener.

Selama ini, lanjutnya, durian Purworejo identik dengan durian Kaligesing dan Bagelen, padahal ada kecamatan-kecamatan lain penghasil durian seperti Loano, Bener, Purworejo, Gebang, Kemiri, Pituruh dan Bruno yang mempunyai keunggulan masing-masing.

“Sehingga melalui festival ini diharapkan bisa menjadi salah satu wahana untuk mengidentifikasi durian-durian unggul Purworejo yang nantinya akan dikembangkan sebagai varietas unggul lokal Purworejo,” imbuhnya.


(Panuju Triangga/CN40/SM Network)