• KANAL BERITA

Pelajar Kecelakaan, Orang Tua Tanggung Dampak Hukum

Kapolres Sragen, AKBP Yimmy Kurniawan (kiri), terlibat dialog dengan Kepala Satpol PP, Heru Martono di CFD, terkait pelajar SMP mengendarai motor ke sekolah.(suaramerdeka.com/Anindito AN)
Kapolres Sragen, AKBP Yimmy Kurniawan (kiri), terlibat dialog dengan Kepala Satpol PP, Heru Martono di CFD, terkait pelajar SMP mengendarai motor ke sekolah.(suaramerdeka.com/Anindito AN)

SRAGEN, suaramerdeka.com – Kapolres Sragen, AKBP Yimmy Kurniawan, mengingatkan para orang tua tidak membiarkan anak-anak mereka yang masih di bawah umur mengendarai sepeda motor ke sekolah. Dengan alasan apa pun pelajar SMP tidak diizinkan mengendarai sendiri sepeda motor ke sekolah.

‘’Kalau ada pelajar SMP yang ditilang karena kedapatan mengendarai sepeda motor di jalanan, maka petugas Satlantas akan memanggil kedua orangtua siswa untuk mengambil sepeda motor di polres,’’ tutur Yimmy Kurniawan.

Kapolres Yimmy Kurniawan mengatakan, mestinya jika orang tua menginzinkan anaknya setingkat SMP mengendarai sepeda motor namun mengalami kecelakaan di jalan, orang tua harus ikut menanggung dampak hukumnya.

‘’Karena sengaja membiarkan anak dibawah umur mengendarai sepeda motor,’’ tuturnya.

Kalau hal itu dibiarkan terus, maka akan sering ditemukan pelajar SMP sebagai generasi penerus mengalami kecelakaan di jalan raya.

Tapi ''sanksi hukum'' yang ditanggung orangtua saat ini yang sering dilakukan, hanya terkait membantu biaya pengobatan bagi korban. Bukan menanggung dampak hukum atas perbuatan yang dilakukan anaknya yang masih di bawah umur saat mengalami kecelakaan di jalan raya.

Sementara ada anggota Polres Sragen yang mengalami luka parah di jemari kaki kanan, akibat ditabrak sepeda motor yang dikendarai siswa. Ada juga yang meninggal dan luka-luka. ‘’Kalau sudah ada kejadian begini, mau apa lagi,’' tutur Yimmy Kurniawan.

Terpisah, Kepala Satpol Pamong Praja Heru Martono mengaku prihatin melihat pelajar sekelas SMP bepergian atau berangkat ke sekolah mengendarai motor. ‘’Itu membahayakan diri pelajar atau orang lain. Karena pelajar SMP belum layak mengendarai motor di jalan raya,’’ tuturnya.

Menurut Heru Martono, para orang tua membiarkan anaknya membawa motor memiliki kaitan dengan gengsi. Sebab saat melihat anak tetangga sudah dibelikan sepeda motor, maka keluarga itu juga akan membelikan sepeda motor untuk anaknya.

Padahal layak atau tidaknya seseorang diizinkan mengendarai sepeda motor, jika sudah memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM). ‘’Tanpa SIM berarti dianggap belum cakap mengendarai sepeda motor,’’ tutur Heru Martono.


(Anindito AN/CN40/SM Network)