• KANAL BERITA

Menteri PPN Apresiasi PLTSa Putri Cempo Solo

Aksi Jawa Tengah Dukung Pembangunan Rendah Karbon

Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

SOLO, suaramerdeka.com - Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro belum lama ini meninjau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo di Surakarta. PLTSa Putri Cempo ini adalah proyek KPBU dengan Penanggung Jawab Proyek Kerja Sama (PJPK) Wali Kota Surakarta.

Per 28 Desember 2018 telah dilakukan penandatangan Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) dengan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan investor PT Citra Metrojaya Putra dengan jangka waktu kontrak 20 tahun. Pada tahap pertama, PLTSa ditargetkan dapat menghasilkan 5 MW energi listrik, sehingga dapat menyuplai kebutuhan 10 ribu pelanggan.

“PLTSa Putri Cempo merupakan bukti nyata manfaat dari KPBU, yaitu pihak swasta dapat membantu pemerintah dengan fasilitas pengolahan (waste to energy) memanfaatkan sampah untuk membangkitkan listrik secara berkelanjutan. Proyek ini diharapkan dapat menjadi contoh dan dapat segera direplikasi oleh daerah Iain. Dengan menggunakan bahan baku sampah, kita dapat mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, memperbaiki bauran energi terbarukan 23 persen pada 2025, sekaligus mendukung pembangunan rendah karbon Indonesia,” ujar Menteri Bambang.

Saat ini investor sedang memproses financial close dan pembangunan konstruksi akan memakan waktu 1,5 tahun, sehingga ditargetkan awal 2022 PLTSa Putri Cempo sudah beroperasi dan dapat disalurkan ke pelanggan.

Sebelumnya, pada acara Pembukaan Musrenbang Provinsi Jawa Tengah dalam rangka Konsultasi Publik Rancangan Awal Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Tengah 2020, Menteri Bambang menyebut, salah satu arah pembangunan wilayah Jawa adalah mempercepat pengembangan kawasan industri. Jawa Tengah adalah salah satu provinsi di Pulau Jawa yang memiliki industri potensial untuk dikembangkan.

“Sejak 2014, perekonomian Jawa Tengah menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan pertumbuhannya selalu lebih tinggi dari nasional. Industri yang memiliki nilai tambah terbesar, antara lain pakaian jadi dari tekstil, furnitur dari kayu, kayu lapis laminasi, rokok, dan pemintalan benang. Untuk itu, sayamendorong Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melakukan upgrading dari industri tingkat kompleksitas rendah, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah dan kontribusi terhadap perekonomian nasional,” jelas Menteri Bambang.


(Andika Primasiwi/CN26/SM Network)