• KANAL BERITA

Jajan Diolah Tanpa Kompor, Dibungkus Daun

JAJANAN TRADISIONAL : Para pengunjung berbelanja makanan tradisional di Pasar Dhoplang, Desa Pandan, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, baru-baru ini. (SM/Khalid Yogi)
JAJANAN TRADISIONAL : Para pengunjung berbelanja makanan tradisional di Pasar Dhoplang, Desa Pandan, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, baru-baru ini. (SM/Khalid Yogi)

WONOGIRI, suaramerdeka.com - Masyarakat Desa Pandan, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri mengembangkan Pasar Dholpang yang menyajikan makanan atau jajanan tradisional tanpa olahan kompor dengan pembungkus daun.

Dalam transaksi jual-beli tidak boleh menggunakan plastik serta tanpa uang sebagai alat pembayaran. Pasar ini menyajikan 193 jenis makanan tradisional, seperti pecel puli, gatot, grontol, pisang rebus, getuk, dan sebagainya.

‘’Semua jajanan hanya boleh dimasak dengan arang atau kayu bakar, tidak boleh menggunakan kompor,’’ kata Kepala Desa Pandan Abdul Wahid Ahmadi.

Ide membuat pasar Dhoplang muncul dari ibu-ibu Dasawisma RT2 RW1. Awalnya, mereka cuma menggelar delapan lapak di pinggir jalan desa, setiap Minggu.

Antusiasme masyarakat ternyata semakin meningkat, sehingga muncul gagasan untuk pengembangan. Pasar dipindah ke sebuah kebun agar terkesan lebih segar. Sebagian besar pedagang berasal dari Desa Pandan yang menyajikan 193 jenis makanan tradisional.

Ahmadi mengatakan seluruh pedagang dan pembeli tidak boleh menggunakan plastik. Pembungkus makanan berupa daun pisang, daun jati, wadah dari gerabah tanah atau bahan-bahan alami lainnya, sehingga ramah lingkungan.

Cek harga tiket termurah untuk berbagai destinasi dari Kota Semarang

Hampir semua pedagang dan pengelola pasar mengenakan pakaian tradisional Jawa. Seluruh pedagang dan pengunjung pasar juga diwajibkan menggunakan bahasa Jawa ketika bertransaksi.

Di sisi lain, transaksi jual-beli tidak boleh menggunakan uang. Para pengunjung diwajibkan menukarkan uangnya dengan koin-koin yang disiapkan oleh pengelola pasar terlebih dahulu. Para pembeli kemudian bertransaksi menggunakan koin-koin tersebut.

Penanggung jawab Pasar Dhoplang Lilis Hardiyanti menambahkan, pihaknya menyiapkan berbagai koin yang setara dengan uang Rp 1.000, Rp 2.000, Rp 5.000, Rp 10.000, Rp 20.000, dan Rp 50.000. "Kalau Rp 1.000 di koinnya ada tulisan angka 1, kalau Rp 2.000 angka 2, dan seterusnya," terangnya.

Setelah pasar selesai, para pedagang dapat menukarkan koin yang mereka peroleh dengan sejumlah uang. Hal itu dilakukan agar peredaran uang lebih terkontrol.

Pihaknya berharap Pasar Dhoplang mampu meningkatkan ekonomi masyarakat sekaligus memelihara kearifan lokal dan budaya Jawa. Selain itu menambah pengetahuan mengenai kuliner tradisional.


(Khalid Yogi/CN34/SM Network)