• KANAL BERITA

Peringatan HPN 2019 di Magelang Kental Unsur Seni dan Budaya

Pimpinan Padepokan Gunung Tidar, ES Wibowo membacakan puisi “Dharma Warta” dengan diiringi Tari Topeng Ireng SMA 5 Magelang dalam peringatan HPN 2019 di Kampung Potrosaran Kota Magelang. (suaramerdeka.com/Asef F Amani)
Pimpinan Padepokan Gunung Tidar, ES Wibowo membacakan puisi “Dharma Warta” dengan diiringi Tari Topeng Ireng SMA 5 Magelang dalam peringatan HPN 2019 di Kampung Potrosaran Kota Magelang. (suaramerdeka.com/Asef F Amani)

MAGELANG, suaramerdeka.com - Setelah tinta emas dituliskan/Diqalamkan atasmu kemuliaan/Lalu dengung kabar burung/Ditajam mata penamu larung. Untukmu yang diujar kebencian/Akar teraniaya tumbuh keberanian/Dan dharma warta di palung kalbu/Membabar kebenaran sepanjang waktu

Kata demi kata dalam sajak “Dharma Warta” ini meluncur tegas dari mulut sang penyair Gunung Tidar, ES Wibowo. Sambil membawa sepucuk kertas, ia membacakan sajak  yang dibuatnya khusus untuk para insan pers dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2019 ini.

Bertempat di Padepokan Gunung Tidar, Kamis (7/2), Bowo panggilan akrabnya, sebagai pembuka membacakan puisinya ini di hadapan peserta peringatan HPN 2019. Peringatan dibalut secara sederhana, tapi kental unsur seni dan budaya.

Kirab budaya keliling kampung dan menyusuri Kali Kota menjadi prosesi yang wajib ada dalam peringatan harinya pers Indonesia ini. Bahkan, kirab ini sudah ada sejak pertama kali peringatan ini lima tahun lalu. Selanjutnya pentas seni topeng ireng dan performance art menjadi hiburan bagi warga.

Hotel

Konsistensi menjadi kunci selalu adanya peringatan yang digagas ES Wibowo bersama segenap warga Kampung Potrosaran Kota Magelang ini. Segenap elemen masyarakat pun turut terlibat dalam peringatan kali ini, seperti Ponpes Selamat, SD Kanisius, dan SMA 5 Magelang.

“Sudah lima tahun ini kita konsisten mengadakan peringatan HPN. Kami bukan wartawan, tapi kami peduli dan mengapresiasi kerja wartawan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dengan pemberitaan-pemberitaannya,” ujar Bowo.

Sang budayawan ini menjelaskan, judul Dharma Warta berlatar belakang kekayaan wartawan berupa berita. Wartawan memiliki kesadaran menyampaikan berita-berita atau pewartaan kepada masyarakat luas.

“Wartawan itu menyampaikan berita secara cuma-cuma. Ini adalah dharmanya seorang pewarta. Maka, kami sebagai pembaca/penonton/pemirsa memiliki kesadaran memberikan penghargaan kepada pers atas dharmanya selama ini,” jelasnya.

Makin lengkap kegiatan peringatan yang muncul dari akar rumput warga kampung ini dengan hadirnya tokoh agama KH Yusuf Khudori alias Gus Yusuf. Gus Yusuf pun berkesempatan menyampaikan orasinya terkait pers.

“Kita pahami bersama peran media luar biasa, sehingga ada istilah siapa menguasai informasi hari ini maka dialah yang akan menguasai dunia. Maka, media sebagai pilar demokrasi diharap makin kokoh bersama rakyat dan turut membangun Indonesia ke depan yang sehat, waras, dan berkebudayaan,” paparnya.

Pengasuh PP Api Tegalrejo Magelang ini pun menyinggung betapa bahaya dan rusaknya kalau informasi hari ini dipenuhi hoax, fitnah, dan ujaran kebencian, maka yang ada adalah kehancuran dan kehancuran.

“Saya harap teman-teman media arus utama dan medsos betul-betul arif/bijak dan bermedia. Khususnya media sosial berhati-hati dalam menggunakan medianya agar apa yang dimediakan membawa manfaat dan maslahat. Kita harus bersama-sama perangi berita bohong,” ungkapnya.


(Asef Amani/CN40/SM Network)