• KANAL BERITA

Makin Terhimpit, Transportasi Becak Tetap Eksis

MENUNGGU PENUMPANG: Tukang becak tetap setia menunggu penumpang saat mangkal di area Pasar Rejowinangun Kota Magelang, meski kondisi saat ini terhimpit oleh usaha jasa transportasi yang lebih modern. (Foto: suaramerdeka.com/Asef Amani)
MENUNGGU PENUMPANG: Tukang becak tetap setia menunggu penumpang saat mangkal di area Pasar Rejowinangun Kota Magelang, meski kondisi saat ini terhimpit oleh usaha jasa transportasi yang lebih modern. (Foto: suaramerdeka.com/Asef Amani)

USAHA jasa transportasi di Indonesia, termasuk Kota Magelang berkembang cukup pesat. Di era milenial ini, tengah populer ojek daring atau online (ojol) yang memanfaatkan kemajuan teknologi. Juga jasa mobil angkut penumpang umum dengan sistem daring yang kini makin marak.

Meski zaman sudah serba digital, jasa transportasi secara manual tetap masih eksis sampai saat ini. Sebut misalnya taksi, angkutan umum kota (angkot), angkudes, dan lainnya. Termasuk transportasi bertenaga manusia, seperti becak juga masih tetap bertahan.

Subono (50), salah satunya yang tetap menggenjot becak untuk mengantarkan penumpang ke tempat tujuan. Ia kerap mangkal di sekitar pasar tradisional yang dianggap banyak penumpang menggunakan jasa becak sebagai transportasinya.

Bapak asal Mertoyudan Kabupaten Magelang ini tidak menampik, transportasi berbasis daring memang marak saat ini. Ia pun mengaku, adanya transportasi modern sangat berdampak pada usahanya mencari rejeki setiap hari.

“Memang banyak ojek online, tapi mau bagaimana lagi. Saya tidak bisa berbuat banyak, selain hanya menunggu ada penumpang yang mau naik becak saya,” ujarnya saat ditemui di tempatnya mangkal area Pasar Rejowinangun, Rabu (6/2).

Dalam menjalankan profesinya ini, setidaknya ia sudah merasakan dampak dari transportasi bertenaga mesin, seperti angkot dan taksi. Termasuk juga maraknya angkutan pribadi seperti sepeda motor dan mobil.

“Dulu angkot dan kendaraan pribadi masih sedikit, becak h banyak dicari. Sekarang sudah susah mencari penumpang. Kadang sehari hanya dapat Rp 15 ribu. Apes-apesnya tidak ada penumpang sama sekali,” katanya sambil mengusap peluh di dahi.

Selaras dirasakan Duki (55), tukang becak asal Bandongan, Kabupaten Magelang yang sudah lama menggeluti profesi ini. Ia mengaku, makin terhimpit dengan transportasi umum yang lebih modern, sehingga penghasilannya dirasa sangat pas-pasan.

“Paling banyak saya dapat Rp 35 ribu per hari. Itu sudah untung, karena seringnya tidak ada penumpang. Dalam mencari penumpang, seringkali saya berpindah dari satu pasar ke pasar lainnya. Pagi biasanya di Pasar Ngasem, lalu siangnya di Pasar Rejowinangun,” jelasnya.

Meski makin terhimpit, ia tetap senang menjalani profesi ini, karena banyak teman dan sambil mengisi hari tua saat anak-anak sudah besar. Apalagi, diakuinya kemampuan hanya menarik becak, mengingat dulu hanya sekolah sampai kelas 4 SD.

“Saya syukuri saja apa yang ada. Ini pekerjaan yang juga hobi saya. Dapat sedikit atau banyak tetap bersyukur, karena soal rejeki sudah ada yang mengatur,” akunya.

Di saat seperti ini, baik Subono maupun Duki masih memiliki harapan, terutama kepada pemerintah agar bisa mengurangi kendaraan pribadi. Selain alasan profesi yang dijalaninya, juga guna mengurangi kemacetan lalu lintas dan polusi udara.

“Sekarang kan orang punya kendaraan pribadi seperti bebas asalkan punya uang meski hutang. Semoga saja ada aturan untuk membatasi jumlah kendaraan pribadi agar tidak macet dan profesi kami juga tetap eksis serta mendapat pelanggan,” ungkapnya.


(Asef Amani/CN41/SM Network)