• KANAL BERITA

Dua Lokalisasi akan Ditutup Bersamaan

LATIH KETRAMPILAN : Sejumlah Pekerja Seks Komersil (PSK) saat mengikuti pelatihan ketrampilan yang diselenggarakan Dinas Sosial Kota Semarang di Balai Resosialisasi Sunan Kuning, Semarang Barat, kemarin. (Foto/Siswo Ariwibowo).
LATIH KETRAMPILAN : Sejumlah Pekerja Seks Komersil (PSK) saat mengikuti pelatihan ketrampilan yang diselenggarakan Dinas Sosial Kota Semarang di Balai Resosialisasi Sunan Kuning, Semarang Barat, kemarin. (Foto/Siswo Ariwibowo).

SEMARANG, suaramerdeka.com - Penutupan dua lokalisasi di Kota Semarang yakni, Sunan Kuning (wilayah Kecamatan Semarang Barat) dan Gambilangu (GBL) (Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tugu) sedianya akan dilakukan secara bersamaan. Perihal kapan persis waktu penutupan masih dalam tahap persiapan.

"Penutupan dua lokalisasi ini akan dilakukan secara bersamaan. Kami dan Pemkot Semarang masih membahas teknisnya. Yang pasti tahunnya 2019," ujar Kepala Seksi Tuna Sosial dan Perdagangan Orang (Kasi TSPO), Dinas Sosial (Dinsos) Kota Semarang, Anggie Ardhitia di Balai Kota Semarang, Jalan Pemuda No 148 Semarang, Senin (21/1).

Anggie menyatakan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mendukung penuh rencana penutupan dua  lokalisasi tersebut.

Menurutnya, semua kegiatan yang dilakukan Dinsos Semarang atas sepengetahuan Wali Kota Hendi. "Termasuk terkait progress kami dalam upaya pembubaran lokalisasi ini," sambung dia.

Ditambahkan Dinsos dan Pemerintah Kota Semarang (Pemkot) berkomitmen ikut serta mensukseskan program Indonesia Bebas Lokalisasi yang dicanangkan Kementerian Sosial Republik Indonesia. Sejumlah pendekatan telah dilakukan Dinsos Semarang.

Di antaranya pendekatan secara humanis. Hal ini dimaksudkan supaya PSK  terentaskan dari lembah hitam kemudian bekerja sebagaimana layaknya masyarakat umum.

"Ada pelatihan tata boga, menjahit, pernak pernik kerjaninan tangan dan sejumlah ketrampilan lainnya. sesuai kebutuhan mereka nantinya untuk bekal hidup di tengah masyarakat. Kami juga beri mereka pemahaman keagamaan," urainya.

Pendekatan tersebut dimulai awal 2017 yang diikuti para mucikari, PSK, serta dorongan pemerintah setempat. Tak hanya itu, Dinsos Semarang juga mengikuti beberapa arahan Kementrian Sosial yang berkaitan dengan peningkatan sumber daya manusia seperti melakukan studi banding di Kabupaten Tegal. 

"Saat ini ada sekitar 200 an PSK di lokalisasi Sunan Kuning dan 120 PSK di GBL. Awal 2017 lalu, Kadinsos Semarang memberikan surat edaran kepada pihak pengelola untuk menutup penerimaan anggota PSK baru. Ini sebagai langkah untuk memudahkan dalam pendataan," terangnya.

Sementara itu, Kabid Rehabilitasi Sosial, Dinsos Kota Semarang, Tri Waluyo menyatakan, dukungan Wali Kota Semarang tersebut sebagai bentuk nyata keseriusan Pemkot Semarang dalam menuju Indonesia yang bermartabat dan bebas dari lokalisasi dan perdagangan orang.

"Kami targetkan pada 2019 penutupan JBL dan Sunan Kuning. Untuk yang PSK liar nanti segera menyusul setelahnya," katanya. 


(Siswo Ariwibowo /CN34/SM Network)