• KANAL BERITA

Campursari SMPN 2 Lasem Terima Puluhan Undangan dalam Setahun

PENUHI UNDANGAN : Grup campursari siswa SMPN 2 Lasem tampil elegan dan memukau memenuhi undangan masyarakat dalam sebuah acara di akhir tahun 2018 kemarin. (suaramerdeka.com/ lyas al-Musthofa)
PENUHI UNDANGAN : Grup campursari siswa SMPN 2 Lasem tampil elegan dan memukau memenuhi undangan masyarakat dalam sebuah acara di akhir tahun 2018 kemarin. (suaramerdeka.com/ lyas al-Musthofa)

REMBANG, suaramerdeka.com – Di Jateng, SMPN 2 Lasem menjadi satu-satunya sekolah yang memiliki grup campursari siswa marketable. Meskipun seluruh personel merupakan siswa, nyatanya grup yang dibentuk oleh pembina seni sekolah sejak 2010 itu tetap eksis sampai sekarang.

Bahkan, dari tahun ke tahun progres pengembangannya cukup signifikan. Meskipun setiap tahun ada saja personelnya yang lulus, namun regenerasi berjalan dengan baik. Sehingga, SMPN 2 Lasem tidak pernah kehilangan talenta-talenta pengganti dengan kualitas sepadan.

Grup campursari Lasem terdiri dari 17 personel yang merupakan siswa kelas VII, VIII serta sebagian kecil kelas IX. Keterwakilan gender di grup ini terpenuhi, lantaran ada lebih dari 5 personel yang merupakan perempuan.

Meskipun kesenian ini terbilang sulit, namun bagi siswa di SMPN 2 Lasem, campursari seperti makanan pokok sehari-hari. Campursari dijadikan sebagai bidang ekstrakurikuler resmi sekolah dengan durasi latihan sepekan sekali.

Pondasi membentuk grup ini tidak mudah. Karena pembina seni mengajari siswa dari nol. Butuh waktu 6 bulan lamanya sehingga anak-anak bisa benar-benar menguasai berbagai musik di dalamnya, seperti gong, kendang, tamborin dan lainnya.

Selama 8 tahun berdiri, berbagai prestasi prestisius telah ditorehkan canpursari SMPN 2 Lasem. selain tampil rutin di kabupaten, grup ini sudah memiliki nama tampil secara komersial di kalangan masyarakat.

Belanja alat musik lebih hemat dan berkualitas di sini

Dalam sejumlah acara hajatan masyarakat, sudah tak terhitung berapa kali grup campursari ini tampil. Meskipun honor bukan tujuan awal, namun kerap kali tanpa diduga apresiasi materi cukup besar diterima sekolah.

“Meskipun sudah sering diundang mengisi acara masyarakat, namu kami tidak mengejar honor. Kadang kami diberi semacam uang pembinaan Rp 3 juta, pernah juga sekali manggung Rp 13 juta. Intinya, kami ingin menunjukan ke masyarakat, siswa SMPN 2 Lasem memiliki potensi tinggi di bidang musik lokal,” terang pembina grup, Suhardi.

Menurut Suhardi, kesenian campursari dipilih sebagai salah satu identitas sekolah lantaran kharakternya sebagai kesenian lokal Jawa. Pihak sekolah ingin ikut andil melestarikan kesenian ini dengan mengajarkan dan mengembangkannya melalui kalangan siswa.

“Kami pernah terlibat pemecahan rekor MURI di Solo tahun 2014. Yang mengisi acara adalah tim campursari SMPN 2 Lasem. Itu salah satu aksi panggung di luar kota yang diikuti anak-anak dan diakui oleh MURI,” imbuh Suhadi.

Seorang personel campursari SMPN 2 Lasem, Vibi Aprilia mengaku aktivitas belajarnya tidak terganggu meskipun terlibat dalam grup. Sebab, latihan dan pentas didesain oleh sekolah tidak sampai menganggu jam pelajaran.

“Belajar dari nol, dan sekarang sudah menjiwai kesenian campursari. Kesenian ini membantu sekali dalam aktivitas keseharian. Siswa menjadi lebih disiplin waktu dan berkembang bakatnya,” katanya.

Kepala SMPN 2 Lasem, Harjanta menyatakan, akan terus mendukung pengembangan campursari di sekolahnya. Kesenian ini harus dikembangkan di kalangan siswa lantaran bagian dari kearifan lokal masyarakat Jawa.

“Agar potensi siswa di bidang kesenian tidak terputus, kami mengarahkan setelah lulus dari sini bisa melanjutkan ke sekolah kejuruan yang selaras dengan kesenian, seperti di SMKI Solo,” papar Harjanta.


(Ilyas al-Musthofa/CN33/SM Network)