• KANAL BERITA

DPRD Siap Evaluasi Perizinan Pabrik Garam

JADI SOROTAN: Garam yang diduga impor didatangkan perusahaan garam yang berada di Desa Langgenharjo, Kecamatan Juwana mendapat sorotan DPRD Pati.  (Foto: suaramerdeka.com/dok)
JADI SOROTAN: Garam yang diduga impor didatangkan perusahaan garam yang berada di Desa Langgenharjo, Kecamatan Juwana mendapat sorotan DPRD Pati. (Foto: suaramerdeka.com/dok)

PATI, suaramerdeka.com - DPRD Pati menyatakan siap mengevaluasi perizinan pendirian pabrik garam industri berskala besar di Juwana, Pati. Pabrik  berbahan baku dari luar negeri itu dinilai menjadi ancaman serius nasib petani garam lokal dan industri kecil garam di Pati.

Ketua Komisi B DPRD Pati Sutarto Oenthersa, Kamis (17/1), mengaku sudah membicarakan rencana itu dengan sejumlah pihak. Kehadiran pabrik yang disebut-sebut milik warga Madura itu perlu mendapatkan perhatian serius.

"Kami menerima keluhan dari temen-temen petani dan IKM pengolah garam lokal. Beberapa informasi dari pihak lain, termasuk perusahaan juga sudah kami kumpulkan. Kini tinggal melakukan tindak lanjut," ujarnya.

Kokok, sapaan akrabnya, menilai kehadiran perusahaan besar pengolah garam impor meresahkan petani dan pengolah garam di Pati. Aspirasi tersebut perlu mendapat respons tepat agar tidak terjadi gejolak.

Perusahaan di Desa Langgenharjo, Kecamatan Juwana itu memiliki gudang stok garam asal Australia. Petani dan IKM garam lokal khawatir keberadaan bahan baku tersebut diolah menjadi produk garam untuk konsumsi.

"Bisa saja nanti dalam praktiknya tidak hanya mengolah garam untuk industri, tetapi juga untuk pasar konsumsi atau garam dapur. Stok garam di perusahaan itu melimpah sehingga dikhawatirkan praktiknya begitu. Garam itu dari luar negeri bukan diserap dari petani lokal," katanya.

Kehadiran perusahaan garam besar bisa mematikan petani garam setempat.  "Dampaknya cukup besar bagi daerah. Kalau tidak dikendalikan, maka kekhawatiran matinya petani garam akan menambah beban daerah dengan melonjaknya pengangguran dan turunnya kesejahteraan masyarakat," paparnya.

Tokoh petani garam Pati M Nur Sukarno menyebut, jumlah petani garam lebih dari 7.000 orang dan industri kecil dan menengah (IKM) garam 93 unit.

Saat ini ada stok garam sisa produksi petani tahun lalu sebanyak 195.601 ton. Garam tersebut merupakan produksi dari lahan tambak garam di 20 desa di Kecamatan Batangan, Juwana, Wedarijaksa, dan Trangkil.


(Moch Noor Efendi/CN41/SM Network)