• KANAL BERITA

Pemerintah Perlu Revitalisasi Pabrik Gula

Foto Istimewa
Foto Istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Pemerintah dinilai perlu melakukan revitalisasi industri gula secara komprehensif. Pasalnya rata-rata kondisi pabrik gula sudah tua, sehingga membuat produksi gula menjadi terbatas. Ketidakefisienan tersebut menyebabkan harga gula dari pabrik-pabrik tua tersebut menjadi 3-4 kali lipat lebih tinggi dibandingkan gula impor

Ekonom dari Universitas Gadjah Mada, Revrisond Baswir menilai bahwa sampai dengan saat ini revitalisasi pabrik-pabrik gula masih belum dilakukan secara optimal.

"Revitalisasi pabrik juga kelihatan setengah hati. Harusnya revitalisasi menyeluruh," ujarnya.

Untuk diketahui, harga gula lokal sampai November 2018 lalu sebesar tiga kali lipat dibandingkan dengan harga gula dunia. Harga gula lokal mencapai Rp 12.163 per kg, sementara rata-rata harga gula mentah dunia hanya Rp 4.000.

Namun, dia berpendapat bahwa revitalisasi tersebut sepertinya sulit dilakukan. Sebab investor cenderung ragu karena produksi tebu nasional dinilai belum mencukupi kebutuhan pabrik.

“Selama ini kan lahan tebu itu masih bercampur-campur. Jarang yang lahan tebu doang tanpa ditanami apa-apa lagi,” imbuhnya.

Dilihat dari Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Tebu 2015-2017, lahan perkebunan tebu dalam periode 2008-2017 tak banyak mengalami perubahan. Pada periode tersebut, luas rata-rata mencapai 454.782 hektare, dengan luasan tertinggi pada 2014 yakni 478.108 hektare dan luasan terendah pada 2009 seluas 441.440 hektare. Dari luasan tersebut, rata-rata produksi pada periode yang sama adalah 246 juta ton. 

Anggota Komisi VI Inas N Zubir, berdasarkan kunjungan yang dilakukannya di beberapa pabrik gula milik BUMN, rendahnya produksi gula nasional lantaran pabrik yang sudah berusia tua. 

"Pabrik gula itu harus dibongkar dan dibangun ulang dengan mesin yang modern. Karena sudah terlampau tua," kata Inas.

Inas melanjutkan, tak hanya umur pabrik gula yang menjadi masalah minimnya produksi gula dalam negeri. Menurutnya, sejauh ini, pemerintah tak mampu menjaga kestabilan produksi tebu para petani.

“Banyak lahan tebu berubah menjadi area bisnis bahkan perumahan. Ini adalah dampak dari otonomi daerah. Pemerintah Daerah senaknya saja merubah lahan pertanian tebu menjadi fungsi lain,” tambahnya. 

Hal serupa diungkapkan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Azam Azman Natawijana. Azam menuturkan, pemerintah melalui Menteri BUMN perlu melakukan revitalisasi seluruh pabrik gula. 

“Pemerintah masih perlu melakukan revitalisasi. Apalagi, untuk merevitaliasi pabrik gula ini tidak susah. Teknologi yang dibutuhkan tidak terlalu canggih,” tutur Azam. (Satrio Wicaksono)


(Satrio Wicaksono/CN19/SM Network)