• KANAL BERITA

Tamu Pernikahan Kenakan Baju Adat

Usung Konsep Pelangi Nusantara

Sejumlah tamu undangan mengenakan baju adat dan berfoto bersama kedua mempelai, pada acara resepsi pernikahan Vanda dan Addo, putra bungsu dari pasangan Prof Hardhono dan drg Grace. (suaramerdeka.com/Eko Fataip)
Sejumlah tamu undangan mengenakan baju adat dan berfoto bersama kedua mempelai, pada acara resepsi pernikahan Vanda dan Addo, putra bungsu dari pasangan Prof Hardhono dan drg Grace. (suaramerdeka.com/Eko Fataip)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Busana daerah biasanya hanya dijumpai pada upacara adat atau kegiatan Hari Kartini. Namun kali ini, beragam baju adat dari berbagai daerah dikenakan oleh para tamu pada acara resepsi pernikahan.

Yulius Tehau, pria asal Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, membawa sendiri baju adat khas Suku Dayak ke Semarang. Baju adat dengan ciri khas Burung Enggang di bagian kepala itu dia kenakan pada acara pesta pernikahan Vandalita Kusuma Wardhani (Vanda) dan Adhyatmika Ardhanaputra (Addo), putra bungsu pasangan Prof Hardhono dan drg Grace.

"Ini baju adat khas Suku Dayak. Biasanya dipakai ketika acara tasyakuran," kata pria yang juga anggota DPRD kabupaten setempat saat menghadiri resepsi kedua mempelai di Hotel Patra, Jalan Sisingamangaraja Semarang, Sabtu (12/1) malam.

Lebih unik lagi, desain baju adat tersebut terdapat sejumlah potongan tulang tiruan. Potongan tulang binatang tiruan itu digantungkan dan diletakkan pada bagian depan.

Sementara itu, menurut Grace, dia sengaja mengusung tema Pelangi Nusantara. Ada pun dari sisi dekor, terdapat anyaman bambu yang dipadukan bersama bunga melati dan padi.

Bambu bermakna tanda bakti anak terhadap orang tua. Hal ini yang menjadi alasan pemilihan bahan tersebut sebagai salah satu material dekorasi.

Berbagai macam pernak pernik tradisional khas Indonesia juga menghiasi tempat utama resepsi digelar. Mulai dari bermacam jenis kendi dan gerabah, hingga pajangan kain khas Nusantara.

"Kami berusaha menampilkan identitas kita sebagai anak bangsa. Ada 36 jenis rempah-rempah yang kami bawa. Para tamu yang hadir juga dapat memegang hingga menciumnya," kata Grace.

Pada menu makanan, ada 12 kuliner khas Indonesia yang dihidangkan. Kesemuanya disajikan dengan olahan bumbu rempah, mulai Lunpia Semarang hingga Lontong Tuyuhan khas Rembang.

Di bagian luar tempat resepsi digelar, dijumpai replika Rumah Oei Lasem. Berbagai camilan khas Nusantara tersaji di sana. Para tamu juga dimanjakan dengam hadirnya stan khusus yang dilengkapi dengan penjual jamu gendong.

Sejumlah pejabat terlihat hadir pada acara ini. Beberapa di antaranya Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, hingga Sekda Provinsi Jateng, Sri Puryono.


(Eko Fataip/CN40/SM Network)