• KANAL BERITA

Netral, Muhammadiyah Jabar Ingatkan Pemimpin yang Beri Harapan

Foto: suaramerdeka.com/Setiady Dwi
Foto: suaramerdeka.com/Setiady Dwi

BANDUNG, suaramerdeka.com - PW Muhammadiyah membebaskan warganya untuk memilih Capres yang dianggap sesuai dengan pemahamannya pada Pilpres 2019. Sisa waktu menjelang pemilihan pada April mendatang diharapkan bisa memberikan gambaran termasuk debat kandidat yang mulai digelar pekan depan.

Meski demikian, PW Muhammadiyah mengingatkan supaya pilihan tersebut benar-benar diambil berdasarkan pertimbangan yang matang sehingga calon pilihannya bisa memberikan manfaat pada masa lima tahun ke depan.

Terlebih dengan tensi kampanye yang semakin tinggi terutama di jagat sosmed dan tak ketinggalan munculnya hoax.

"Tingkatkan kecerdasan dalam menilai situasi, apa pun pilihan kita karena kalau tak memberikan kemaslahatan akan sia-sia juga, siapa pun calonnya diharapkan bisa kontrukstif, produktif, dan memberikan harapan di masa depan, pilihan terbaik," kata Ketua PW Muhammadiyah Jabar, Suhada di sela-sela Muspimwil di Bandung, Sabtu (12/1).

Menurut dia, salah satu sarana untuk mulai memetakan calon yang dianggap terbaik itu bisa dilakukan dengan cara menyimak debat di antara dua kandidat Capres. "Ini semacam fasilitas untuk melakukan seleksi, awam bisa melihat, terutama akan hal-hal substansi," jelasnya.

Terhadap hoax, Suhada menilanya sebagai hal yang memperihatinkan terutama dari sisi kontennya. Meski demikian, katanya, tren tersebut relatif sulit dihindari. Karena itu, dia mengharapkan masyarakat bisa membangun imunitas dalam menghadapinya.

"Arus informasi tak bisa dicegah. Masyarakat  harus dikuatkan mentalnya, kestabilan emosinya, saya pikir berkumpul dengan orang soleh dan bijak, bisa jadi solusi dengan meminta nasehat yang kompeten, jadi tak diputuskan sendiri dalam memahami berita itu," jelasnya sambil menegaskan bahwa Muspimwil tak membahas khusus persoalan Pilpres.

Di tempat yang sama, Gubernur Jabar Ridwan Kamil menyebut tensi tinggi yang terjadi pada masa kampanye Pilpres lebih dikarenakan faktor pemahaman sebagian masyarakat.

"Beda pilihan itu rutinitas tapi jadi terbelah, ini karena kita tak bisa membedakan makna lawan dan musuh. Di Pilpres diartikan musuh padahal lawan, biasa di kompetisi, kalau kalah ya silaturahmi lagi, bukan malah marah," katanya.

Karena itu, RK berseloroh bahwa sebaiknya persoalan yang menyangkut hati lebih baik dihindari. Baginya, pilihan Pilpres sama halnya orang yang tengah jatuh cinta dan setaraf pendukung klub sepakbola.

"Sulit dinasehati, jadi sebaiknya dihindari perbincangan yang menyangkut mereka, dipaksakan malah bisa memicu kegaduhan, karena pilihan hati itu memang susah. Meski demikian, saya berharap jangan sampai dinamika seperti ini sampai menutup silaturahmi," katanya.


(Setiady Dwi/CN41/SM Network)