• KANAL BERITA

Agama Rentan Disusupi Virus Radikalisme

MEMBERIKAN ARAHAN : Wakil Rektor I Bidang Akademik USM, Prof Dr Hardani Widhiastuti (kanan) memberikan arahan kepada sejumlah dosen Mata Kuliah Pendidikan Agama, Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan di Ruang Sidang Utama Gedung B lantai 2 Universitas Semarang, Jalan Arteri Soekarno-Hatta Semarang, kemarin. (suaramerdeka.com/Siswo Ariwibowo)
MEMBERIKAN ARAHAN : Wakil Rektor I Bidang Akademik USM, Prof Dr Hardani Widhiastuti (kanan) memberikan arahan kepada sejumlah dosen Mata Kuliah Pendidikan Agama, Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan di Ruang Sidang Utama Gedung B lantai 2 Universitas Semarang, Jalan Arteri Soekarno-Hatta Semarang, kemarin. (suaramerdeka.com/Siswo Ariwibowo)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Pimpinan Universitas Semarang (USM) menilai virus radikalisme rentan dimasukkan ke agama. Melalui dosen kegamaan dan kewarganegaraan, pihak kampus ingin menekankan hal tersebut supaya mahasiwa tidak mudah terpapar radikalisme.

“Kami tak ingin mahasiswa terpapar radikalisme. Kami tekankan pendidikan agama dan kewarganegaraan untuk menghalaunya," tutur Rektor Universitas Semarang, Andy Kridasusila saat memberi pengarahan kepada jajaran dosen mata kuliah Pendidikan Agama, Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan di ruang sidang utama, gedung B lantai 2 USM, Jalan Arteri Soekarno Hatta Semarang, kemarin.

Menurutnya, agama menjadi hal penting dalam pembelajaran di kampus. Dia juga berharap, para dosen mampu mengawal kegiatan mahasiswa dengan aktivitas perkuliahan dan ekstrakulikuler yang positif.

"USM berpegang teguh pada Pancasila serta mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," imbuhnya.

Di sisi lain, Koordinator Tim Ahli Pemerintah dalam revisi UU tentang Pemberantasan Terorisme yang juga Guru Besar USM, Prof Muladi mengungkapkan, 
ada beberapa penyebab mahasiswa terpapar radikalisme. Di antaranya, pemahaman agama yang kurang, wawasan kebangsaan yang lemah, serta kebebasan berekspresi dalam akademik yang kebablasan.

“Kebebasan berekspresi ada ukurannya, karena dibatasi oleh ketertiban umum. Ini demi keamanan nasional yang dilandasi nilai demokrasi dan moral agama,” paparnya.

Wakil Rektor I Bidang Akademik USM, Prof Dr Hardani Widhiastuti mengatakan, kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk pendalaman terhadap visi-misi USM yang berwawasan kebangsaan. Oleh karena itu, penguatan tentang wawasan kebangsaan harus terus dilakukan supaya mahasiswa tidak terpapar radikalisme. 

“Di antara peran dosen adalah mengajak mahasiswa berperilaku ke-Indonesia-an serta anti radikalisme” ujarnya.

Selain itu, dari segi kegiatan akademik, materi tentang wawasan kebangsaan ditambahkan pada mata kuliah. Metode belajar yang diberikan bukan lagi Teacher Centered Learning (TCL) tetapi Student Centered Learning (SCL). Artinya mahasiswa tidak lagi menghafal teori, tetapi langsung praktik. Jadi wawasan kebangsaan diterapkan pada kehidupan sehari-hari.

“Ini sesuai arahan dari yayasan bahwa, lulusan USM harus memiliki tiga sertifikat kompetensi yakni, bahasa Inggris, komputer dan wawasan kebangsaan," ujarnya.
Rencananya, akhir Januari, USM mulai memberlakukan sertifikasi tersebut. Diawali dengan pengarahan dosen agama, Pancasila, dan Kewarganegaraan dalam Rencana Pembelajaran Semester (RPS)," imbuhnya. 


(Siswo Ariwibowo /CN39/SM Network)