• KANAL BERITA

Petani di Sragen Terancam Gagal Panen

TERANCAM KERING: Areal persawahan di wilayah Tanon. (suaramerdeka.com/Basuni Hariwoto)
TERANCAM KERING: Areal persawahan di wilayah Tanon. (suaramerdeka.com/Basuni Hariwoto)

SRAGEN, suaramerdeka.com – Setelah sekitar dua bulan masa tanam, sejumlah petani di beberapa kecamatan mulai khawatir bakal gagal panen. Pasalnya, sudah sekitar tiga minggu ini hujan tidak turun lagi, sementara pasokan air dari untuk sawah minim.

Saat ini, sejumlah sawah milik petani mulai mengering. Jika hujan tak segera turun ancaman gagal panen musim ini bakal terjadi. Untuk sementara, petani mengairi sawah mereka dengan menggunakan sumur submersible, namun petani harus mengeluarkan biaya ekstra.

Petani di tiga kecamatan, Tanon, Sumberlawang dan Mondokan, mulai merasakan kesulitan air untuk pasokan sawah. Dirjo Wiranto (65), Petani asal Dusun Karang, Desa Gading, Tanon mengatakan, sejak tanam padi sekitar dua bulan lalu hingga kini masih kesulitan air.

Pasalnya hujan hingga pertengahan Januari ini belum maksimal. Bahkan sejak tiga minggu, hujan tidak turun dan membuat mereka kesulitan mengairi sawah mereka.Terpaksa petani menggunakan sumur sible (submersible) untuk mendapatkan pasokan air.

"Saya harus mengunakan jasa sumur sibel,’’ kata Dirjo, kemarin. Untuk menggunakan sumur sibel biaya relatif mahal, Rp 20 ribu/jam. Keluhan senada dirasakan Sudarmi (50), warga Dusun Ngasem, Desa Karangtalun, Tanon.  Dia juga khawatir terancam tidak panen bila hujan tidak kunjung turun.

‘’Hujan sudah lama tidak turun, jelas saya khawatir kalau tidak bisa panen. Modal tanam padi serta memperkerjakan orang tanam dan beli pupuknya saja sudah habis 3 jutaan, belum biaya lain-lainnya,’’ tutur Sudarmi.

Dia juga terpaksa menggunakan sumur sibel guna mengairi sawahnya. Padahal bila menggunakan air dari sumur sibel tidak murah dan harus antre dengan petani lain. ‘’Semoga saja hujan turun lagi, sebab banyak tanaman padi yang sudah mengering,’’ tandasnya.

Harwanto (49), petani warga Dusun Guli, Desa Gumantar, Kecamatan Mondokan mengatakan tidak hanya sawah yang kekeringan, sumur-sumur milik warga juga belum mengeluarkan air. ‘’Sumur-sumur warga masih banyak yang kering,’’ jelasnya.

Saat ini, untuk komsumsi air minum warga masih membeli galonan dan air isi ulang. ‘’Saat awal tanam sudah hujan, eh malah hujan malah turun lagi, sawah pada kering dan untuk minum juga susah harus beli galonan," tegasnya.


(Basuni Hariwoto/CN39/SM Network)