• KANAL BERITA

2019, Pemerintah Mungkin Akan Tahan Diri untuk Tak Keluarkan Kebijakan Ekonomi

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Executive Director Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Rainer Heufers mengatakan, secara umum, 2018 adalah tahun yang sulit bagi perekonomian. Masih adanya sebagian perangkat peraturan yang tidak konsisten dan tidak efisien membuat pemodal atau pemilik bisnis menahan diri dalam menginvestasikan modalnya.

"Pertumbuhan output saat ini melambat, permintaan gagal membaik secara signifikan dan penjualan ekspor turun sepanjang tahun. Investasi asing langsung anjlok lebih dari 20 persen year on year pada kuartal ketiga 2018," kata dia.

Memasuki 2019, pemerintah kemungkinan akan menahan diri untuk tidak mengeluarkan kebijakan atau inisiatif ekonomi sebelum akhir masa jabatannya. Upaya agresif untuk membuka 54 sektor tambahan melalui relaksasi Daftar Negatif Investasi (DNI) untuk investasi asing pada bulan November, misalnya, ditentang oleh kelompok-kelompok yang akhir-ahir ini cukup sering bersuara seiring semakin dekatnya pemilihan umum.

"Perjanjian perdagangan bebas dengan Australia saat ini ditunda meskipun rencana sebelumnya telah ditandatangani pada bulan Desember. Akibatnya, ekonomi relatif tidak terpapar dengan dinamika perekonomian global dan juga terus-menerus memiliki rasio perdagangan terhadap PDB yang relatif rendah," ujarnya.

Rainer menjelaskan, akibat isolasi ini, Indonesia tidak dapat mengambil manfaat dari pergeseran strategi China dari industri padat karya. Ekonomi digital yang tumbuh mungkin memberi Indonesia sedikit harapan. Investor dalam e-commerce, teknologi keuangan, dan *sharing economy *sedang mengamati daya beli konsumen Indonesia yang dianggap mengesankan. Bagaimanapun, pendorong pertumbuhan ekonomi terbesar adalah konsumsi swasta, yang meningkat hampir sepertiga dari 2014 hingga 2018.

Tetapi perkembangan dalam industri jasa padat modal seperti e-commere, teknologi keuangan, dan sharing economy tersebut tidak serta merta akan menyelesaikan hambatan besar yang dihadapi dalam pengembangan sektor manufaktur dan pertanian. Mengingat bahwa kedua faktor ini sangat penting bagi orang Indonesia dengan keterampilan dan pendapatan yang lebih rendah, tampaknya tahun depan akan menjadi business as usual lagi, untuk sebagian besar orang Indonesia.

 


(Andika Primasiwi/CN26/SM Network)