• KANAL BERITA

Kecewa Tak Jadi Kades, Jalan Antar Dua Kecamatan Ditutup Tembok Permanen

Sejumlah warga kesulitan mencari jalan untuk melintas, karena akses yang biasa mereka gunakan ditutup dengan tembok setinggi 2 meter di perbatasan Desa Sindupaten Kecamatan Kertek, kemarin. (SM/ M Abdul Rohman)​​​​​​​
Sejumlah warga kesulitan mencari jalan untuk melintas, karena akses yang biasa mereka gunakan ditutup dengan tembok setinggi 2 meter di perbatasan Desa Sindupaten Kecamatan Kertek, kemarin. (SM/ M Abdul Rohman)​​​​​​​

WONOSOBO, suaramerdeka.com - Jalan alternatif penghubung dua kecamatan, yakni antara Desa Rejosari Kecamatan Kalikajar dan Desa Sindupaten Kecamatan Kertek ditutup tembok permanen tinggi dua meter. Diduga hal itu lantaran salah satu calon kepala desa (kades) pemilik lahan yang dijadikan jalan, merasa kecewa karena tidak terpilih dalam Pemilihan Kepala Desa (Kades) Serentak di Desa Rejosari pada 12 Desember 2018 lalu.

Kepala Dusun (Kadus) Bakulan Desa Rejosari, Cahyo Edi menyebutkan salah satu calon kades diduga merasa kecewa dengan warga desa setempat, karena kalah saat Pilkades Serentak beberapa pekan lalu. Dengan ditutupnya akses jalan alternatif penghubung dua kecamatan, tepatnya di Desa Sindupaten tersebut, aktivitas warga di bidang ekonomi, pendidikan dan sosial saat ini tersendat.

Menurut dia, kejadian tersebut bermula dari indikasi kekecewaan salah satu calon Kades yang kalah di kontestasi Pilkades pada 12 Desember 2018 lalu. "Karena merasa ditipu oleh warga, pascapemilihan selesai dan calon dengan nomor urut satu ini kalah, kemudian sorenya jalan itu langsung di patok dengan bambu, sehingga kendaraan bermotor tidak bisa lewat," tutur dia.

Dikatakan, pascaperhitungan dalam pilkades selesai dan dirinya kalah. Sore harinya jalan dilubangi dan dipatok menggunakan bambu. Baru sekitar seminggu ini, jalan itu ditutup total dengan dipasang batako sehingga orangpun sekarang sudah tidak bisa lewat.
"Dari pihak desa sendiri tidak bisa berbuat banyak karena memang jalan tersebut masih berada di lahan milik salah satu calon yang kalah tersebut. Artinya jalan secara itu masih hak milik pribadi," jelasnya.

Kondisi saat ini, warga yang akan ke Desa Sindupaten atau sebaliknya harus memutar arah dengan jarak sekitar 45 menit, padahal sebelumnya hanya membutuhkan waktu sekitar 10-15 menit saja. "Yang jelas banyak warga yang memanfaatkan jalan pengubung itu untuk tujuan ekonomi, pendidikan dan sosial. Karena banyak orang yang mau menjual sayur ke Pasar Kertek lewat situ, untuk sekedar pengajian atau melayat, bahkan anak sekolah juga lewat situ," keluhnya.

Sementara itu, Calon Kades Gagal Soim yang merupakan pemilik lahan menyebutkan tanah itu milik bapaknya. Penutupan jalan dilakukan tim suksesnya untuk memberi pelajaran kepada masyarakat konsisten. Penutupan jalan itu, kata dia bukan kesalahannya. Sebab tanah tersebut memang milik bapaknya. Jadi melihat jumlah perolehan suara yang tidak sesuai. Jalan tersebut ditutup oleh tim sukses seizin bapaknya selaku pemilik tanah.

“Lha bapak saya tidak terima, anaknya dipermainkan, pilkades tersebut penuh kecurangan, ini bukan soal kalah menang. Kamu ingin memberikan pelajaran kepada masyarakat Rejosari untuk bersikap konsisten dalam pilkades, sehingga menghasilkan pemimpin yang baik dan konsisten pula. Akan tetapi sikap warga Rejosari ternyata tidak seperti yang diharapkan," tuturnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Camat Kalikajar, Tarjo mengemukakan, penutupan akses jalan warga Desa Rejosari menuju Desa Sindupaten Kecamatan Kertek memang dampak dari Pilkades 2018, Desember lalu. “Sudah kita respon persoalan tersebut, kita dorong ada rembugan secara kekeluargaan dulu di desa. Kami tidak tinggal diam, bersama unsur terkait sedang merumuskan langkah-langkah tertentu agar persoalan itu bisa segera diatasi," ujarnya.


(M Abdul Rohman/CN34/SM Network)