• KANAL BERITA

Melihat Potensi Desa Watu Pecah, Pemilik Durian Termanis se-Jateng

Desa Watu Pecah Kecamatan Kragan, meskipun terpencil, memiliki sejuta potensi di bidang agrowisata yang selama ini belum tergarap dan terekspose secara maksimal. (suaramerdeka.com/Ilyas al-Musthofa)
Desa Watu Pecah Kecamatan Kragan, meskipun terpencil, memiliki sejuta potensi di bidang agrowisata yang selama ini belum tergarap dan terekspose secara maksimal. (suaramerdeka.com/Ilyas al-Musthofa)

REMBANG, suaramerdeka.com – Watu Pecah menjadi satu-satunya desa di Kecamatan Kragan yang nyaris tidak memiliki aset desa. Satu-satunya aset yang mencolok, selain Balai Desa, dari desa di ujung atas Kecamatan Kragan itu hanyalah tanah makam.

Kondisi itu membuat Kades dan para perangkat di sana tidak mendapatkan jatah mengelola tanah bengkok, sebagaimana Kades dan perangkat di desa lainnya. Selama ini, mereka hanya mendapatkan uang gaji yang diterimakan sebulan sekali.

Jumlah gajinya pun relatif kecil dibandingkan dengan kebutuhan umum rata-rata di Kabupaten Rembang sekarang. Kades hanya mendapatkan gaji dan tunjangan sebesar Rp 3 juta/bulan. Sedangkan perangkatnya jauh lebih kecil, Rp 1,7 juta/bulan. Sebagai catatan, mereka tidak menikmati tanah bengkok.

Meski pun bergaji kecil, hal itu tidak menyurutkan kinerja Kades dan enam perangkatnya. Mereka meniati tanggungjawab yang diembannya sehari-hari itu sebagai bentuk pengabdian masyarakat.

Kades Watu Pecah, Kardi mengungkapkan, minimnya aset yang dimiliki tidak menyurutkan upaya pengembangan yang diupayakan pemerintah desa. Keberadaan Alokasi Dana Desa (ADD) dan Dana Desa (DD) cukup membantu pembangunan di desa.

“Kami dapat DD Rp 700 juta, dan ADD Rp 200 juta. Dana tersebut kami gunakan untuk membangun sarana dan pemberdayaan masyarakat desa. Ada 202 keluarga serta 576 jiwa di desa kami. Mereka tinggal di empat Rt dan satu Rw,” terang Kardi.

Saat ini, Kardi tengah berupaya merintis pengembangan potensi lokal Watu Pecah di bidang buah-buahan dan sayuran. Ia menyebut, potensi buah durian Watu Pecah sangat mampu bersaing di Rembang, bahkan Jateng.

Belakangan, kualitas buah durian lokal Watu Pecah dites oleh Dinas Pertanian Jateng. Hasilnya, buah durian lokal yang diberi nama varietas Durian Tango dinobatkan oleh Dinas Pertanian Provinsi sebagai yang termanis di Jateng.

“Durian lokal ini khas rasanya, berbeda-beda setiap pohon. Ada yang manis saja, dan manis pahit. Ada durian lokal yang diuji oleh provinsi, ternyata kadar gulanya paling tinggi di Jateng. Namanya, Durian Tango. Buahnya ukurannya kecil-kecil, tetapi manis sekali,” ujarnya.

Ribuan Pohon

Ia menyebut, ada ribuan pohon durian yang tumbuh di desanya. Sehingga setiap kali musim panen, akan ada lebih dari 10 ribu buah durian yang bisa dipetik. Kebanyakan akan langsung habis di atas diambil oleh pemborong untuk dibawa ke kota.

“Sebenarnya soal kualitas durian sini unggul. Hanya saja kalah promosi saja dengan durian dari daerah lainnya. Banyak durian Watu Pecah dibawa ke kota dan diakui sebagai durian dai daerah tertentu. Sehingga tidak dikenal sebagai durian Watu Pecah. Kami sudah membentuk BUMDes dan butuh bimbingan dari Dinas Pariwisata untuk pengembangan,” kata dia.

Selain durian, petai sayur juga menjadi komoditi khas Watu Pecah. Ada ribuan pohon petai tumbuh disana. Saat musim panen, bisa lebih dari 50 ribu tangkai petai yang bisa dipanen oleh warga.

Sementara itu, Plt Kabag Tata Pemerintahahan Setda Rembang, Gunari mengakui, Watu Pecah termasuk dari 14 desa di Rembang yang tidak memiliki tanah bengkok. Untuk operasional dan program, desa hanya mengandalkan ADD dan DD.

“Total ada 14 desa di Rembang yang tidak memiliki tanah bengkok. Rinciannya, tujuh desa di Kecamatan Kota, satu desa di Kecamatan Gunem, dua desa di Pancur, serta satu desa di Kragan,” tandas Gunari.


(Ilyas al-Musthofa/CN40/SM Network)