• KANAL BERITA

Dradjat Bela Amien Jawab Surat Terbuka Lima Pendiri PAN

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Wakil Ketua Dewan Kehormatan PAN Dradjad Hadi Wibowo merespon surat terbuka lima tokoh pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) yang meminta pendiri Amien Rais mundur dari partai yang mereka bangun. Dradjat menilai surat terbuka tokoh-tokoh yang kini sudah berada di luar partai itu tidak obyektif dan cenderung politis karena Amien beroposisi terhadap calon presiden incumbent, Djoko Widodo.

Seperti diketahui kelima tokoh yang ikut mendirikan PAN; Abdillah Toha, Albert Hasibuan, Goenawan Mohamad, Toeti Heraty, dan Zumrotin, meminta Amien Rais mundur dari jagat perpolitikan ataupun dari PAN. Dalam surat terbuka yang dikirim Abdillah menilai sikap politik Amien selama ini melenceng dari prinsip pendirian partai maupun sebagai tokoh bangsa. Sebaliknya justru ikut mengeruhkan suasana dalam negeri.

"Untuk itu, barangkali sudah saatnya Saudara (Amien Rais) mengundurkan diri dari kiprah politik praktis sehari-hari, menyerahkan PAN sepenuhnya ke tangan generasi penerus, dan menempatkan diri Saudara sebagai penjaga moral dan keadaban bangsa serta memberikan arah jangka panjang bagi kesejahteraan dan kemajuan negeri kita," demikian isi surat terbuka tersebut.

Surat Terbuka tersebut direspon Dradjat, juga dengan Surat Terbuka, yang isinya mengritik alasan yang disampaikan kelima pendiri PAN. "Karena banyak jurnalis yang bertanya, saya menjawabnya melalui Surat Terbuka saja," demikian alasan Dradjat yang disampaikan kepada media.

Mantan ekonom Indef tersebut menyatakan sangat menghormati dan berterima kasih kepada para seniornya di PAN. "Namun sesuai prinsip-prinsip yang beliau sebutkan, sebagai yunior saya wajib bersuara," tandasnya.

Tidak Obyektif

Dradjat menilai surat mereka tidak obyektif karena tidak sesuai fakta. Contohnya, Amien dituduh sering melakukan manuver politik yang tidak sejalan dengan kelima prinsip tersebut. "Mari kita lihat prinsip ke 4 dan 5 tentang keterbukaan, inklusif, persamaan hak dan kewajiban warga negara," lanjutnya.

Ia menunjuk contoh kasus Bara Hasibuan, putra Albert Hasibuan. Dalam Pileg 2014 menurut rekap KPU Sulut jumlah suara Bara adalah 17.672 suara. Bara tidak lolos ke Senayan. Yang terpilih adalah Yasti Soepredjo Mokoagow dengan suara 112.758, yang lalu dikoreksi menjadi 103.801 suara.

Karena Yasti mundur untuk menjadi Bupati Bolmong, Bara menggantikannya sebagai anggota DPR. Yasti beragama Islam, sebagian besar pemilihnya adalah saudara kita Muslim dari Kabupaten Bolmong. Bara bergama Kristen, tapi hanya belasan ribu saudara kita Kristiani Sulut yang memilih dia.

Faktanya, pergantian Yasti ke Bara mulus-mulus saja di PAN. Tidak ada isu agama apapun. Padahal, kursi Bara itu berasal dari puluhan ribu bahkan mungkin lebih 100 ribu suara Muslim. Pak Amien dan bang Zulkifli Hasan sangat mendukung. "Jika pak Amien dan PAN tidak inklusif, tidak terbuka, tidak menghormati persamaan hak warga negara dan hak anggota PAN, apa mungkin pergantian ini mulus? Kurang inklusif bagaimana pak Amien dan PAN?" protesnya.

Jika melihat empat tuduhan pertama terhadap Amien, Dradjat meyakini surat itu tidak lepas dari dukungan Amien Rais dan PAN ke kubu Prabowo, bukan Jokowi. "Terus apa pak Amien tidak boleh mendukung Prabowo? Apakah salah jika Rakernas PAN 2018 mendukung Prabowo? Bukankan itu hak warganegara yang ada di PAN?," sambungnya.

Jika dukungan PAN kepada pasangan Prabowo-Sandi tak lepas dari kuatnya pengaruh Amien Rais dalam Rakernas, Dradjat mempertanyakan mengapa kelima pendiri PAN tersebut tidak berusaha memiliki pengaruh yang sama. "Mengapa beliau berlima tidak menyuarakan aspirasi dalam Rakernas?"

Dradjat tidak setuju jika manuver Amien disebut destruktif bagi PAN. "Bukti empirisnya apa? Faktanya, dalam Pileg 2014 kursi dan suara PAN naik. Itu tidak lepas dari kerja bang Hatta sebagai Ketum, semua kader dan tentu manuver politik pak Amien," tandasnya.

Soal tuntutan mundur, Dradjat menilai posisi dan peran Amien itu selalu "jelas dan tuntas" dalam Kongres, forum tertinggi PAN. "Apakah bapak/ibu berlima hendak mengajari yuniornya untuk tidak taat kepada keputusan Kongres?" Menutup surat terbukanya sebagai yunior Dradjat memohon maaf atas kekritisannya.


(Fauzan Jayadi/CN26/SM Network)