• KANAL BERITA

MUI Khawatir Anak Muda Cari Gampang dalam Beragama

Sekretaris Umum MUI Jateng, KH Muhyiddin, dan Ketua Komisi Fatwa, KH Ahmad Hadlor Ikhsan, membuka Seminar dan Lokakarya (Semiloka) Aliran Sesat di Jateng dan Sosialisasi Fatwa MUI Terbaru di Hotel Semesta Jalan KHA Wahid Hasyim, Kranggan, Semarang. (suaramerdeka.com/Agus Fathuddin)
Sekretaris Umum MUI Jateng, KH Muhyiddin, dan Ketua Komisi Fatwa, KH Ahmad Hadlor Ikhsan, membuka Seminar dan Lokakarya (Semiloka) Aliran Sesat di Jateng dan Sosialisasi Fatwa MUI Terbaru di Hotel Semesta Jalan KHA Wahid Hasyim, Kranggan, Semarang. (suaramerdeka.com/Agus Fathuddin)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng, KH Ahmad Hadlor Ikhsan, merasa khawatir kecenderungan anak muda sekarang dalam beragama mencari yang gampang, mudah dan instan.

''Padahal beragama itu sebaiknya melalui proses belajar, mengaji ada guru (ustadz) dan yang paling penting harus dirunut kebenaran dan sumbernya. Nah anak muda tanya hukum agama ke google atau penyedia jasa internet lainnya,'' katanya.

Dia mengatakan hal itu dalam Seminar dan Lokakarya (Semiloka) Aliran Sesat di Jateng dan Sosialisasi Fatwa MUI Terbaru di Hotel Semesta Jalan KHA Wahid Hasyim, Kranggan, Semarang, kemarin.

Sekretaris Umum MUI Jateng, KH Muhyiddin menjelaskan, semiloka selama dua hari itu diikuti para pengurus MUI Kabupaten/Kota se-Jateng. Menghadirkan pembicara Prof Dr Koeswinarno MA, Dr H Abu Rokhmad MA, KH Kharis Shodaqoh, dan Dr KH Syaifuddin Zuhri MAg.

Dalam diskusi yang dimoderatori KH Multazam Ahmad, Kiai Hadlor yang juga pengasuh pondok pesantren Al-Islah, Mangkang Kulon, Semarang, mengatakan, untuk menetapkan suatu aliran keagamaan sesat atau menyimpang melalui proses yang cukup panjang.

''Sedikitnya ada 10 kriteria yang digunakan,'' katanya.

''Yaitu mengingkari terhadap rukun iman dan rukun Islam. Misalnya Shalat zuhur empat rakaat tiba-tiba ada yang mengumumkan menjadi tiga rakaat pasti sesat,'' katanya.

Meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar'i (Alquran dan Hadist), meyakini turunnya wahyu setelah Alquran, ingkar terhadap otentisitas dan atau kebenaran isi Al Quran. Menafsirkan Al Quran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir. Ingkar atas kedudukan Hadist Nabi sebagai sumber ajaran Islam. Melecehkan dan atau merendahkan para Nabi dan Rasul. Ingkar terhadap Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir. Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah dan mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar'i.

Fatwa Imunisasi MR

Sekretaris Umum MUI Jateng, KH Muhyiddin, ketika membuka semiloka tersebut mengatakan, fatwa MUI terbaru yang menjadi viral di media massa belum lama ini yaitu pemberian vaksinasi Measles Rubella (MR). ''Memang tugas Majelis Ulama salah satunya membuat fatwa. Jadi kalau kadang-kadang menjadi pro dan kontra di masyarakat sudah biasa,'' tegasnya.

Mengenai penetapan aliran sesat, Muhyiddin menjelaskan tidak asal-asalan. Tetapi melalui proses yang panjang, penelitian dan pengkajian. Setelah itu dibawa ke komisi fatwa untuk dibahas dikaji secara mendalam.

Dia mencontohkan ketika MUI Jateng mengeluarkan fatwa aliran Sabdo Kusumo Kudus. MUI mengkaji dan meneliti secara mendalam, koordinasi dengan Polres Kudus sampai akhirnya pada kesimpulan aliran tersebut dinyatakan sesat.

''Fatwa yang paling cepat dibahas selama dua bulan yaitu tentang Gafatar pimpinan Ahmad Musadeq. Jelas-jelas sesat karena dia mengaku sebagai nabi,'' katanya.

Fatwa halal menurut Kiai Hadlor juga menjadi tugas dan wewenang MUI. ''Ada yang usul agar diubah jangan fatwa halal tapi fatwa haram. Nggak bisa malah berbahaya,'' katanya.

Ibarat masuk ke dalam belantara, MUI bertugas memberi petunjuk kepada umat ini yang halal. Ada materi lain yang halal ada juga yang haram. ''Kalau ada fatwa haram malah berbahaya nantinya,'' kata Kiai Hadlor.


(Agus Fathuddin/CN40/SM Network)