• KANAL BERITA

PVMBG Butuh Waktu Identifikasi Penyebab Tsunami di Selat Sunda

Kabid Mitigasi Gunung Api PVMBG, Wawan Irawan. (Foto: suaramerdeka.com/Setiady Dwi)
Kabid Mitigasi Gunung Api PVMBG, Wawan Irawan. (Foto: suaramerdeka.com/Setiady Dwi)

BANDUNG, suaramerdeka.com - PVMBG menyebut sempat terjadi gempa tremor menerus yang menandakan pelepasan energi Gunung Anak Krakatau (GAK) sebelum tsunami melanda pesisir Banten dan Lampung.

Letusan tersebut bahkan membuat alat pemantauan di GAK rusak tertimpa material yang dilontarkan. Hanya saja, kondisi tersebut belum bisa dipastikan sebagai penyebab gelombang tinggi masuk ke daratan.

Demikian pula kemungkinan terjadinya longsor di bawah laut di sekitar gunung api yang pernah meletus hebat pada 1883 itu. Meski GAK meletus seperti itu, intensitasnya relatif tak signifikan.

Hal tersebut dikatakan Kabid Mitigasi Gunung Api PVMBG, Wawan Irawan didampingi Kasubid Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat, Kristianto dan Kasubid Mitigasi Gempa Bumi & Tsunami, Ahmad Solihin di Bandung, Minggu (23/12).

"Jenis letusannya strombolian, ini termasuk kecil. Pantauan seismik kami pun tak menunjukan pasokan energi yang besar, sedangkan untuk longsoran bawah laut itu harus benar-benar dicek morfologinya ke lapangan," kata Wawan.

Untuk itu, PVMBG mengirimkan tim khusus untuk melakukan pengamatan dan penyelidikan. Di antaranya untuk memastikan adanya deformasi di tubuh gunung api yang berada di Selat Sunda itu. Untuk saat ini, pihaknya memantau aktivitas vulkanik GAK dari stasiun seismik di Pulau Sertung.

Kristianto menambahkan aktivitas letumaterial yang berstatus Waspada dengan kecenderungan tersebut sebenarnya sudah berlangsung sejak Juni lalu kendati agak fluktuatif.

"Pada saat kejadian itu, catatan seismik GAK dominan tremor menerus, overscale seharian. Dan kita agak kaget ketika informasinya berhubungan dengan gelombang laut yang tinggi," katanya.

Mengingat rekaman gempanya berupa tremor menerus, PVMBG tak bisa mendeteksi kemungkinan adanya gempa lainnya karena energi pada saat itu tengah terlepas.

"Untuk memantau gempa letusan sudah susah, karena gempa tremor merupakan kombinasi leleran lava, emisi erupsi yang terbuang ke udara, dan material lainnya," jelasnya.


(Setiady Dwi/CN41/SM Network)