• KANAL BERITA

2019, Bisnis Properti Bakal Prospektif

PGS Gelar Seminar dan Tenant Gathering

Motivator Tung Desem Waringin memberi penjelasan pada sejumlah wartawan, sebelum menjadi pembicara dalam seminar dan tenant gathering bertema "Prospek Ekonomi dan Property 2019" di Solo. (suaramerdeka.com/Langgeng Widodo)
Motivator Tung Desem Waringin memberi penjelasan pada sejumlah wartawan, sebelum menjadi pembicara dalam seminar dan tenant gathering bertema "Prospek Ekonomi dan Property 2019" di Solo. (suaramerdeka.com/Langgeng Widodo)

SOLO, suaramerdeka.com - Bisnis properti di Indonesia diprediksi bakal prospektif di 2019 dan dua tahun atau tiga tahun selanjutnya. Selain karena siklus tiga atau empat tahunan, kata motivator Tung Desem Waringin, adà beberapa faktor positif yang diperkiràkan àkan menjadikan bisnis di sektor itu moncer di tahun depan.
Pertama, kata dia, kondisi ekonomi Indonesia yang terus membaik. Kemudian ada penurunan bunga bank sehingga diharapkan mampu mendongkrak daya beli masyarakat, termasuk daya beli di sektor properti. Kedua, pembangunan infrastruktur khususnya jalan tol oleh pemerintah yang mendukung mobilitas masyarakat untuk bergerak dalam berbisnis.

Ketiga, bonus demografi, di mana tahun depan akan banyak orang kaya baru. Selanjutnya, kata dia, dalam jangka pendek, sebenarnya perang dagang antara Amerika dan Tiongkok adalah faktor negatif bagi perekonomian bangsa Indonesia dan bangsa lainnya.

"Namun dalam jangka panjang justru akan menjadi positif, karena akan memunculkan dorongan pemerintah dan para pelaku bisnis untuk mandiri dan tidak bergantung pada negara lain," kata Tung Desem, sebelum menjadi pembicara dalam seminar dan tenant gathering bertema Prospek Ekonomi dan Property 2019 di Solo, kemarin.

Tung Desem yang juga pelaku dan pengamat ekonomi itu menampik lesunya bisnis retail, khususnya mal atau pusat perbelanjaan. Menurut dia, bisnis ritail tidak lesu tapi hanya berpindah tempat saja, dari ibu kota atau kota besar pindah ke daerah-daerah. Makanya, kalau bisnis ritailnya mau eksis, pindahlah atau bukalah cabang ke daerah-daerah. Gangguan dari penjualan online bagi mal tidak seberapa.

"Saya melihat, bisnis ritail di Kota Solo ini cukup maju, karena didukung dan menjadi penyangga di daerah-daerah di sekitar. Demikian juga kulinernya, juga banyak disukai orang. Dengan adanya jalan tol, saya yakin Solo akan semakin ramai, karena waktu tempuh menuju Solo makin pendek," kata lulusan UNS Solo itu.

Dalam kesempatan itu, juga diungkaplkan tentang Pusat Grosir Solo (PGS), salah satu pusat perbelanjaan dan pusat perkulakan besar berbagai batik, tekstil, dan garmen di Solo. Dengan manajemen baru oleh PT Putera Griya Sentosa, lantai tiga PGS akan dijadikan hotel dan lantai satu akan dijadikan galeri untuk menampung dan menjual berbagai produk kerajinan dari sejumlah UMKM.

Sementara itu untuk lantai dua dipertahankan sebagai pusat perdagangan. Hanya saja, kios yang semula disewakan itu kini dijual bebas. Harganya, Rp 700 juta hingga Rp 1,2 miliar, tergantung luasan dan letaknya. Pembelian bisa diangsur dalam waktu sesuai perjanjian dengan uang muka 10 hingga 30 persen.

Bagi pembeli kios, juga akan diberi modal kerja secara rutin tiap bulan, asal mereka rutin berjualan setiap hari. Besaran modal tergantung besaran uang muka dan besaran cicilan. "Dari 150 kios, sudah laku 12 kios," kata Direktur PT Putera Griya Sentosa, Ocky Kurniawan, yang optimis kiosnya bakal habis terjual.


(Langgeng Widodo/CN40/SM Network)