• KANAL BERITA

Jumlah Remaja Wonosobo Menikah dalam Kondisi Hamil Tinggi

Orang Tua Dituntut Ikuti Perkembangan Anak

BERI PENGARAHAN : Kepala Kemenag Wonosobo, Muhammad Thobiq memberikan pengarahan kepada para orang tua saat peringatan Hari Ibu di Pendapa Kabupaten Wonosobo, Kamis (20/12) lalu. (Foto suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)
BERI PENGARAHAN : Kepala Kemenag Wonosobo, Muhammad Thobiq memberikan pengarahan kepada para orang tua saat peringatan Hari Ibu di Pendapa Kabupaten Wonosobo, Kamis (20/12) lalu. (Foto suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)

WONOSOBO, suaramerdeka.com - Jumlah remaja yang menikah dalam kondisi hamil di Wonosobo tinggi. Catatan pihak Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Wonosobo hingga akhir Oktober, jumlah remaja yang menikah dalam kondisi hamil mencapai sebanyak 306 orang. Sementara jumlah dispensasi nikah yang telah dikeluarkan pihak Pengadilan Agama Wonosobo mencapai kurang lebih sebanyak 125-an.

Kepala Kemenag Wonosobo, Muhammad Thobiq menyampaikan, selain perkinahan dini, data perceraian hingga tanggal 31 Oktober 2018 untuk kasuss cerai yang menggungat suami sejumlah 583 pasang, sedang yang menggugat pihak perempuan ada sebanyak 1.445 pasang. "Untuk jumlah nikah hamil di Wonosobo memang memprihatinkan, yakni sebanyak 306 orang dan jumlah dispensasi nikah lebih kurang 125-an," ungkapnya.

Menurut dia generasi sekarang boleh dikatakan sebagai generasi strowberi atau kids zaman now. Mereka begitu hebat dalam penggunaan teknologi, akan tetapi mereka rapuh bila dihadapkan pada banyak permasalahan. "Mereka sudah tidak tahu bahwa zaman dulu, teknologi itu tidak ada, ibaratnya mereka lahir, sudah bisa main Gadget Layar Sentuh, sebenarnya generasi ini paling “pas” hidup di zaman  sekarang karena kemampuan multitaskingnya," ujarnya.

Jadi, kata dia, di satu sisi mereka cenderung terburu-buru, tapi di sisi lain sangat cepat beradaptasi dengan lingkungan. Kelemahan generasi sekarang, fokus perhatian mereka semakin lama semakin pendek karena topic of interest yang banyak serta keinginan yang serba cepat. Generasi milenial, kata dia, harusnya fokus pada satu hal untuk benar-benar ditekuni dan sabar melakukan setiap perkembangannya.

Pihaknya memberikan solusi agar permasalah tersebut bisa berkurang pada tahun-tahun yang akan datang, yakni para orang tua 'kids zaman now' dituntut untuk belajar mengikuti segala macam perkembangan yang terjadi pada anak-anak. "Kemudian, lakukan interaksi positif melalui suana kominikatif, karena kalau komunikasi lancar anak akan banyak cerita, percaya kepada kita," terang Thobiq. 

Dengan hal itu, kata dia maka orang tua bisa menasehati kapan memegang smartphone atau android anaknya dan membantu anaknya mengatur waktunya. Orang tua juga perlu meluangkan waktu 15-20 menit untuk berinteraksi dengan anak. Meski kuantitas bersama anak dinilai kurang, kualitas waktu yang tersisa harus bisa membangun kedekatan antara orang tua dan anak. Selain itu perlu membuat kurikulum keluarga untuk mengajarkan nilai dan norma yang ada.

Terpisah, Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik, Eko Sutrisno Wibowo menyebutkan, penanganan kasus pernikahan dini di Wonosobo memang menjadi tanggung jawab bersama. Bukan hanya dibebankan kepada pemerintah, melainkan segenap elemen masyarakat, lebih khusus para orang tua memiliki andil sangat besar dalam hal pendidikan pada anak-anaknya agar tidak terjerumus pada perilaku negatif. 


(M Abdul Rohman/CN19/SM Network)