• KANAL BERITA

2019, Kondisi Ekonomi Solo Solid

Pertemuan Tahunan Bank Indonesia bertajuk "Sinergi untuk Ketahanan dan Pertumbuhan" di kantor bank sentral setempat, Rabu (12/12). (suaramerdeka.com/Langgeng Widodo)
Pertemuan Tahunan Bank Indonesia bertajuk "Sinergi untuk Ketahanan dan Pertumbuhan" di kantor bank sentral setempat, Rabu (12/12). (suaramerdeka.com/Langgeng Widodo)

SOLO, suaramerdeka.com - Pertumbuhan ekonomi Soloraya di 2019 diproyeksikan masih cukup solid, ditopang oleh keempat sektor utamanya.  Yaitu industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, pertanian, dan konstruksi.

Proyeksi itu disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Solo, Bandoe Widiarto, ketika membuka Pertemuan Tahunan Bank Indonesia bertajuk Sinergi untuk Ketahanan dan Pertumbuhan di kantor bank sentral setempat, Rabu (12/12). Proyeksi yang sama untuk ekonomi nasional dan Jawa Tengah disampaikan ekonom nasional, Budi Hidayat, dan Dosen FEB UNS Surakarta, Lukman Hakim.

"Kami juga optimis bahwa inflasi Kota Solo di 2019 diperkirakan mampu mendukung pencapaian target inflasi nasional 3,5 ± satu persen, karena didukung solidnya pengendalian inflasi oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah melalui program 4K. Yakni ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif," katanya.

Lebih lanjut Bandoe mengatakan, untuk memperkuat ketahanan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, sinergi adalah kunci. Oleh karenanya, sinergi kebijakan antara Bank Indonesia dengan pemerintah daerah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, dunia usaha, civitas academica, media, dan para mitra kerja lainnya yang selama ini telah erat akan terus diperkuat.

Sinergi yang kuat pada TPID di kota/kabupaten di Soloraya, menurut dia, telah mampu menjaga inflasi tetap rendah dan terkendali. Sinergi itu diwujudkan melalui pelaksanan rapat koordinasi baik di level tiim eknis mau pun High Level Meeting (HLM) dan pelaksanaan program aksi yang dilakukan dengan mengacu pada program pengendalian inflasi 4K.

Pihaknya juga memperkuat sinergi di bidang sistem pembayaran tunai, antara lain dengan perbankan di Soloraya dalam pelaksanaan
penukaran uang bersama, penyelenggaraan kampanye GPN (gerbang pembayaran nasional) dan upaya mendorong penggunaan kartu debit
berlogo GPN serta rencana penarikan empat pecahan uang Tahun Emisi (TE) 1998 dan 1999.

"Di bidang sistem pembayaran nontunai, BI, perbankan dan Pemda akan bersinergi bersama mengawal implementasi transaksi nontunai di daerah mendorong penggunaan Uang Elektronik (unik) bagi pengguna jalan tol, dalam penyaluran bantuan sosial non tunai serta transaksi lain dalam rangka mendorong efisiensi perekonomian," jelasnya.

Ekonom Budi Hidayat menilai, kebijakan pemerintah yang akan memperkuat sektor manufaktur dalam rangka menggenjot pertumbuhan ekonomi nasional sangat tepat, meski bisa dibilang tetlambat. Ia mengatakan, di 2000 hingga 2010 pemerintah lebih menitikberatkan sektor komoditadas ketimbang sektor manufaktur.

Kebijakan pemerintah, termasuk penyaluran kredit perbankan diarahkan ke sana karena harga berbagai komoditas seperti minyak bumi, kelapa sawit, dan komoditas lainnya saat itu tengah moncer di pasar global. Dengan ditinggalkannya sektor manufaktur, sektor ini menjadi terbengkalai. Padahal kalau terus diperkuat, sektor ini jauh lebih bagus dan lebih besar dampaknya.

"Selain sektor manufaktur, sektor pariwisata kini juga bisa diandalkan di saat perekonomian dunia seperti ini," katanya.

Sementara itu Lukman Hakim lebih banyak menyoroti peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dinilai masih sangat dominan dalam memberi kontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional. "Jika setiap BUMN mempunyai sepuluh anak perusahaan dan tersebar di berbagai daerah, saya yakin perekonomian kita akan sangat baik dan bisa dibanggakan," kata Lukman.


(Langgeng Widodo/CN40/SM Network)