• KANAL BERITA

Paradigma Pengelolaan Hutan Bergeser ke Non Kayu

Adm Perum Perhutani Pekalongan Timur Joko Santoso ketika melakukan penanaman pohon di kawasa Linggoasri, Kajen, Minggu (9/12). (suaramerdeka.com/dok)
Adm Perum Perhutani Pekalongan Timur Joko Santoso ketika melakukan penanaman pohon di kawasa Linggoasri, Kajen, Minggu (9/12). (suaramerdeka.com/dok)

PEKALONGAN, suaramerdeka.com - Paradigma pengelolaan hutan Perum Perhutani sekarang tak lagi hanya berkosentrasi kepada produk kayu. Namun paradigmanya mulai bergeser berubah ke orientasi non kayu. Di antaranya, pengembangan potensi pariwisata, sumber daya air, dan hasil hutan non kayu.

"Sumber daya hutan semakin lama mendapat tekanan sosial yang kian tinggi akibat jumlah penduduk yang semakin meningkat dan lainnya. Situasi global juga menuntut kelestarian, maka bergeser dari kayu ke non kayu. Di antaranya optimalisasi wisata, sumber daya air yang melimpah, dan hasil hutan non kayu seperti getah, kopi, dan kopal," terang Ketua DPW Sekar Perhutani Jawa Tengah, Weda Panji H, ditemui usai Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Serikat Karyawan Perhutani Jawa Tengah di Bumi Perkemahan Linggoasri, Kabupaten Pekalongan, Minggu (9/12).

LDK diselenggarakan selama dua hari, Sabtu (8/12) - Minggu (9/12). LDK bertujuan untuk meningkatkan jiwa corsa dan solidaritas karyawan di 20 DPD se-Jateng. Dalam kegiatan itu, digelar berbagai kegiatan untuk meningkatkan mental dan fisik karyawan, silaturahmi antar anggota, dan dukungan dari para senior.

"Dalam kegiatan ini juga meningkatkan kepedulian sosial dan lingkungan. Makanya ada kegiatan pemberian tali asih untuk keluarga anggota dan penanaman bibit pohon pinus di lahan terbuka dan di lereng," terang dia.

Sebagaimana siara pers yang sampai ke suaramerdeka.com, Miggu (9/12). Tujuan lainnya, lanjut dia, meningkatkan kesejahteraan anggota dan eksistensi Perhutani dengan mengawal sumber daya manusia dan sumber daya hutan.

Menurutnya, jumlah anggota aktif Sekar Perhutani Jateng sekitar 2.500 anggota. Namun jumlah itu bisa bertambah dan pihaknya masih terus melakukan inventarisasi anggota. Luasan area hutan yang dikelola Perum Perhutani Jateng sekitar 650 ribu hektare.

"Tantangan kita kedepan jumlah anggota kian berkurang baik akibat pensiun dan lainnya, sehingga harus mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas," katanya.

Adm Perum Perhutani Pekalongan Timur, Joko Santoso menerangkan, dalam pengelolaan pariwisata di wilayah Perum Perhutani dilakukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), yang merupakan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). LMDH ini strukturnya di bawah desa, sehingga pengelolaan pariwisata itu merupakan bagian dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

"Cepat lambatnya berkembangan pariwisata tergantung pemikiran masyarakatnya. Di KPH Pekalongan Timur ada sekitar 15 titik wisata yang berkembang," terang Joko.

Diakuinya, di awal perkembangan wisata di sekitar hutan ini penghasilan yang diperoleh Perum Perhutani masih sedikit. Namun, pihaknya konsen untuk mengembangkan usaha pariwisata inikarena efek dominonya luar biasa. Seperti menggeliatnya perekonomian masyarakat sekitar hutan dan perputaran uang di wilayah wisata tersebut.

"Di Kabupaten Pekalongan sendiri di antaranya berkembang di Petungkriyono, Paninggaran, Kesesi, Doro, Lebakbarang, dan Kandangserang," katanya.

Sementara itu, Ketua DPP Sekar Perum Perhutani, M Ikhsan menambahkan, serikat Perum Perhutani ini dibentuk tahun 2005, yang merupakan gabungan tiga serikat di tiga provinsi, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jabar-Banten. Anggota serikat sekitar 13 ribu orang, dari total 19.800 karyawan. "Komunikasi serikat dengan manajemen cukup bagus," imbuhnya.


(Agus Setiawan/CN40/SM Network)