• KANAL BERITA

Hadapi Revolusi Industri 4.0, Tenaga Pendidik Harus Melek Teknologi

BERI MOTIVASI: Guru Besar Institut Teknologi Surabaya (ITS) Prof Dr Eng Imam Rosbandi memberikan motivasi dan arahan dihadapan kepala sekolah se Jawa di bawah Muhammadiyah pada Sarasehan Academic Atmosphere and Image Building di Embung Opak, Jumat (8/12). (suara merdeka.com/ Gading Persada)
BERI MOTIVASI: Guru Besar Institut Teknologi Surabaya (ITS) Prof Dr Eng Imam Rosbandi memberikan motivasi dan arahan dihadapan kepala sekolah se Jawa di bawah Muhammadiyah pada Sarasehan Academic Atmosphere and Image Building di Embung Opak, Jumat (8/12). (suara merdeka.com/ Gading Persada)

SLEMAN, suaramerdeka.com - Era Revolusi Industri 4.0 sudah masuk di kehidupan setiap manusia. Tidak gagap dan melek teknologi pun mau tak mau sudah menjadi kebutuhan primer. Termasuk di dunia pendidikan dan tenaga pendidik pun harus punya peran penting didalamnya.

"Bila guru bodoh, bagaimana mereka bisa menstransfer ilmu kepada siswanya. Mereka hanya tahunya mengurus sertifikasi. Kalau cuma itu maka yang dibeli hanya mobil bukan menciptakan teknologi. Akhirnya nanti terjadi gap antara guru dan murid," tegas Guru Besar Institut Teknologi Surabaya (ITS), Prof Dr Eng Imam Rosbandi dalam rangkaian Sarasehan Academic Atmosphere and Image Building di Embung Opak, Jumat (8/12).

Menurutnya, teknologi di era Revolusi Industri 4.0 sudah jadi kebutuhan primer dalam kehidupan manusia. Persaingan di bidang teknologi pun semakin cepat terjadi seiring bermunculannya sekitar seribu inovasi baru setiap detiknya.

"Bisa dibayangkan tiap satu detik ada sekitar seribu lebih penemuan baru di bidang teknologi. Makanya perlu melek teknologi kalau tidak ingin mengalami ketertinggalan jauh," jelas dia.

Menurut Imam, bila setiap orang hanya jadi konsumen atau pengguna abadi teknologi, maka dikhawatirkan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia hanya akan jadi jongos dari bangsa lain. Dia pun menyoroti masih maraknya budaya malas menciptakan inovasi dan teknologi yang harus secepatnya diubah.

"Apalagi sejak kecil, peserta didik tidak memiliki habit berinovasi. Guru sebagai tenaga pendidik pun banyak yang tidak memiliki inisiatif ataupun kemampuan dalam mengembangkan inovasi di bidang teknologi," tutur dia dihadapan tenaga pendidik yang sebagian besar Kepala Sekolah Se Jawa di lingkungan Muhammadiyah tersebut.

Imam menambahkan, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menguasai teknologi, bukan yang mempunyai sumber daya. Karenanya generasi muda harus diajarkan teknologi sejak dini.

Untuk itu guru di pendidikan dasar perlu dibekali teknologi paling baru meski pada tahap dasar. Mereka bisa diikutkan pelatihan teknologi secara berkelanjutan tiga bulan sekali. Pemerintah dalam hal ini perlu memfokuskan anggaran dan program dalam rangka percepatan di bidang teknologi. "Misalnya guru yang tersertifikasi harus memiliki standar kompetensi di bidang teknologi. Regulasi ini perlu diatur," tegas dia.

Selain itu, attitude atau karakter guru dan peserta didik juga harus dibangun. Jangan sampai masyarakat Indonesia memiliki daya saing di bidang teknologi tapi miskin karakter. "Teknologi dan attitude adalah ujung tombak pembangunan bangsa. Ini yang perlu difokuskan agar kita bisa mengejar ketertinggalan," tandasnya.


(Gading Persada /CN33/SM Network)