• KANAL BERITA

Berantas Berita Bohong, Jabar Luncurkan Saber Hoaks

Kendalikan berita bohong yang bertebaran, Pemprov Jabar merilis Tim Saber Hoaks di Gedung Sate Bandung, Jumat (7/12). (Suaramerdeka.com/ Setiady Dwi)
Kendalikan berita bohong yang bertebaran, Pemprov Jabar merilis Tim Saber Hoaks di Gedung Sate Bandung, Jumat (7/12). (Suaramerdeka.com/ Setiady Dwi)

BANDUNG, suaramerdeka.com - Pemprov Jabar meluncurkan program sapu bersih (Saber) Hoaks guna memberantas kabar-kabar tak karuan, terutama yang banyak berkembang di lini masa sosial media.

"Tugas Saber Hoaks lebih memverifikasi kabar yang muncul, diminta tak diminta, benar tidak tulisan dan foto yang muncul, bersifat proaktif, serta secara rutin dirilis," kata Gubernur Jabar, Ridwan Kamil di Bandung, Jumat (7/12).

Sebagai tulang punggung pemberantasan hoaks, RK membebankannya ke dinas komunikasi dan informasi (Diskominfo). Dia meminta dinas tersebut untuk melibatkan masyarakat dan elemennya.

Mengutip data Polri belum lama ini, mantan Walikota Bandung itu menyatakan bahwa berita berkategori hoaks, alias bohong yang berseliweran mencapai 5.700 buah. Baginya, kondisi tersebut tak bisa dipandang remeh.

Dirinya mengaku pula sebagai korban hoaks, terutama saat Pilgub lalu. Secara implisit, RK pun sempat menyinggung kasus Ratna Sarumpaet karena sempat menyinggung lokasi kejadian di Bandung. "Makanya ini tak bisa dibiarkan, ini merupakan program serius, tugas tim merilis secara rutin atas berita hoaks yang beredar di masyarakat terutama di Jabar," tandasnya.

Dia pun mengingatkan Diskominfo untuk mengenali tren penyebaran berita bohong yang tak lagi melulu menggunakan sosmed. Di antaranya penyebaran hoaks melalui ranah pribadi seperti aplikasi pesan semacam WA.

Kadiskominfo, Hening Widiatmoko menambahkan bahwa penyebaran hoaks sudah pada taraf mengkhawatirkan. Baginya, tak terkendalinya berita bohong itu berpeluang memberikan ancaman besar bagi kehidupan masyarakat.

Untuk program Saber Hoaks, pihaknya mengaku membentuk tim khusus. Tak hanya PNS. "Ancaman terbesarnya adalah gangguan kerukunan kehidupan dalam masyarakat. Penipuan, penyesatan, keresahan, sampai memicu kepanikan di masyarakat, dan tim akan banyak memberi klarifikasi atas kabar-kabar hoaks itu," katanya.


(Setiady Dwi/CN33/SM Network)