• KANAL BERITA

Menapakkan Asa dari Bisnis Sepatu

Para pekerja melakukan proses produksi di industri sepatu dan sandal kulit di Purwokerto. (suaramerdeka.com/Puji Purwanto)
Para pekerja melakukan proses produksi di industri sepatu dan sandal kulit di Purwokerto. (suaramerdeka.com/Puji Purwanto)

PARA pekerja bagian produksi sepatu dan sandal kulit di Kelurahan Arcawinangun, Kecamatan Purwokerto Timur, Banyumas terlihat sibuk. Mereka serius dan fokus mengerjakan pekerjaannya.

Ada yang sedang membuat desain sepatu dan sandal. Ada pula yang menjahit, mengelem, hingga proses finishing. Mereka tak terganggu ketika puluhan wartawan Purwokerto menyambangi ruang produksi pada acara Hunting Jurnalistik 2018, Jumat (23/11).

Hunting Jurnalistik 2018 dengan tema Menguatkan Kemitraan dan Kebersamaan diinisiasi oleh Bank Jateng Cabang Koordinator Purwokerto, bekerja sama dengan Bagian Humas Kabupaten Banyumas dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Purwokerto.

"Semua proses produksi sepatu dan sandal fokus di rumah produksi ini," kata pemilik usaha sepatu dan sandal kulit, Bandi Setiawan.

Bandi merintis usaha produksi sepatu dan sandal kulit dari nol. Ia bahkan tidak memiliki pengalaman membuat sepatu dan sandal, karena latar belakang pengalaman kerjanya hanya sebagai sopir truk. Ia juga tidak memiliki pendidikan untuk menunjang dalam menekuni usahanya itu.

"Saya bekerja menjadi sopir truk sejak usia 16 tahun. Selama menjadi sopir truk, hidup saya tidak ada perubahan. Begitu-begitu saja," katanya.

Kemudian, pada 2007 ia mulai banting setir. Meninggalkan pekerjaan sopir dan mencoba pengalaman baru dengan merintis usaha jual beli sepatu untuk mengubah nasib. Ia meyakini bahwa cara mengubah nasib harus diolah dari dalam diri sendiri. Bermodal Rp 130 ribu, Bandi mulai membeli sepatu dari toko sepatu. Sepatu itu kemudian di jual lagi secara kelilingan menggunakan sepeda motor.

Sasaran pasarnya yaitu instansi-instansi dan sekolah-sekolah yang ada di wilayah Kabupaten Banyumas dan sekitarnya. Model pemasaran itu memberikan jalan terang. Sepatu kulit yang ditawarkan ke instansi dan sekolah sekalu laku meskipun dalam jumlah sedikit.

"Saya mengambil di toko satu pasang hingga dua pasang untuk dijual lagi. Tapi lama kelamaan barang dagangannya terus bertambah. Itu saya jalani selama satu  tahun," ujarnya.

Dari pengalamannya itu, ia meyakini pemasaran sepatu dan sandal kulit potensial. Apalagi, pendapatan dari hasil penjualan kelilingan cukup menjanjikan. Ini mendorong Bandi untuk mencoba tantangan baru. Membuka usaha sendiri. Memproduksi sepatu dan sandal kulit sendiri. Modalnya pinjam bank. Ia optimis bisa mengangsur pinjaman bank.

Tepat pada 20 Maret 2008, Bandi memulai usaha produksi sepatu dengan merek Vistrand Shoes. Pinjam bank Rp 4 juta untuk modal usaha. Ia kemudian merekrut dua pekerja dari daerah Tegal. Dua pekerja yang memiliki pengalaman bekerja pada bagian produksi sepatu kulit. Satu orang bekerja mengelem sepatu, satunya lagi bagian menjahit.

Bandi bekerja di finishingnya. Model sepatu yang diproduksi terinspirasi dengan sepatu-sepatu yang dijual di toko-toko. Bahan baku kulit sepatu dibeli dari Magetan, sedangkan bahan baku lain, seperti lem dan lain-lain dari Bandung.

"Awalnya saya sengsara sekali karena semua dikerjakan dari nol. Tantangan utama berwirausaha yang pasti pusingnya luar biasa karena dari orang kerja kemudian punya  karyawan 'kan pusing.

Di permodalan juga, karena di sini harus ada bahan baku yang dibeli, tapi belum bisa langsung dijual," tuturnya.

Keluar Zona Nyaman

Namun, tekad keluar dari zona nyaman lebih besar. Ia memiliki prinsip semua bidang usaha harus dilakukan dengan fokus dan tekun. Pria yang mengaku tidak mengenyam pendidikan hingga SMP itu memiliki karakter tidak mudah menyerah dengan keadaan. Apapun keputusan yang sudah diambil harus dijalani dengan penuh tanggung jawab. Walau pun dalam perjalannya banyak aral melintang.
 
Lambat laun, jerih payahnya itu mulai membuahan hasil. Usaha produksi sepatu dan sandal kulit kian berkembang. Strategi pemasaran masih mengandalkan dengan cara keliling ke instansi dan sekolah. Strategi lain, ia menawarkan produk dengan cara kredit dan tunai. Pembayaran kredit tidak mengenakan bunga. Bahkan, Bandi berani memberi garansi 1 tahun terhadap produk yang dijual konsumen.

Volume produksi sepatu kulit pada awal memproduksi sendiri sekitar puluhan pasang. Omzet per bulan mencapai Rp 2 juta. Seiring waktu omzet penjualannya terus meningkat. Ini memantik Bandi untuk meminjam modal usaha dari bank untuk menunjang usahanya. Ia terpacu untuk terus mengembangkan usahanya.

Ia kemudian meminjam ke Bank Jateng Koordinator Purwokerto. Ia meminjam Rp 2 miliar. Nominal itu digunakan untuk membeli tambahan unit peralatan pendukung produksi, bahan baku serta merenovasi tempat produksi. Tempat produksi yang nyaman dilengkapi dengan mess membuat pekerja betah menjalani pekerjaan di Vistrand Shoes.  

"Saya sudah menjalin hubungan dengan Bank Jateng sudah lama. Pinjam di Bank Jateng pas sesuai dengan kebutuhan. Tidak kurang dan tidak lebih. Saya sangat terbantu sekali dengan Bank Jateng," ujarnya.

Suntikan dana segar ini mampu menggerakkan roda usaha produksi sepatu dan sandal kulit milik Bandi. Saat ini, ia telah memiliki pekerja bagian produksi 40 orang, sedangkan tenaga pemasaran sekitar 30 orang. Kapasitas produksi sebulan rata-rata 5000 pasang. Harga per pasang sepatu dan sandal kulit mulai Rp 210 ribu hingga Rp 600 ribu.

Jenis sepatu yang diproduksi, diantaranya sepatu pantofel, kasual dan sepatu offroad, sedangkan sandal kulit macamnya banyak. Ada sekitar seratus lebih model yang telah diproduksi. Pemasaran produk di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah dan sebagian wilayah Jawa Barat. Dengan volume produksi itu, Bandi mampu mendulang omzet mencapai Rp 200 juta per bulan.

Bandi kini terus berinovasi untuk mengembangkan usahanya. Baru-baru ini, ia mengajukan modal usaha lagi sebesar Rp 6 miliar ke Bank Jateng untuk membangun tempat produksi dan pengadaan spon untuk membuat sandal jepit. Rencananya sandal jepit ini dijual ke warung-warung, pasar tradisional serta memenuhi permintaan pasar di Kalimantan.

Pada kesempatan itu, Pemimpin Bidang Pemasaran Bank Jateng Koordinator Purwokerto, Siti Nafisah mengatakan, untuk mendukung perkembangan UMKM, Bank Jateng memiliki beberapa jenis kredit dengan syarat mudah dan proses cepat.

Untuk pinjaman modal usaha sampai dengan Rp 100 juta misalnya, pelaku usaha hanya cukup melampirkan surat keterangan usaha. Jadi tidak perlu menggunakan SIUP. Kemudian, bagi industri rumahan yang usahanya baru berjalan minimal enam bulan, bisa didanai dengan kredit Mitra Jateng 25. Kredit ini tanpa jaminan dengan plafon Rp 25 juta.

Ketika usahanya semakin berkembang dan memiliki aset yang dapat dijaminkan di bank, maka pelaku usaha itu akan dibiayai menggunakan Kredit Usaha Rakyat (KUR). KUR ini menawarkan pinjaman dengan plafon hingga Rp 500 juta.

"Dan Vistrand Shoes ini berangkat dari kredit usaha rakyat. Jadi sejak 2008, ia sudah bergabung dengan Bank Jateng sampai dengan 2018. Nanti Vistrand Shoes akan menambah pinjaman lagi dengan plafon sampai dengan Rp 6 miliar untuk pengembangan usaha. Saat ini sedang proses pengajuan," katanya.

Selain memberikan kredit, Bank Jateng juga memiliki program trainer of trainer. Pelaku UMKM diberi pendidikan dan pelatihan tentang kewirausahaan, meliputi penyusunan laporan keuangan hingga pemasaran.

"Kita didik dengan simulasi-simulasi usaha yang bekerja sama dengan Jerman. Itu diaplikasikan dengan UMKM nasabah kita," kata Siti Nafisah.

Dengan dukungan fasilitasi permodalan bagi UMKM melalui kredit Mitra Jateng 25 maupun KUR, serta pelatihan dan pendidikan kewirausahaan, bank milik pemerintah daerah itu telah memberi kontribusi terhadap perkembangan UMKM di Jateng untuk naik kelas. Seperti Bandi Setiawan yang menapakkan asa pada usaha sepatu dan sandal kulit. Dari pemasar kelilingan, kini ia menjelma menjadi pengusaha sukses.


(Puji Purwanto/CN40/SM Network)