• KANAL BERITA

UU dan Council Kebidanan Dirasa Mendesak

PAPARAN: Ketua PPNI Jateng Edy Wuryanto memaparkan berbagai permasalahan kebidanan, pada seminar nasional Deteksi Dini Ibu Hamil dengan Kelainan Jantung di Grobogan, baru-baru ini. (Foto: suaramerdeka.com/dok)
PAPARAN: Ketua PPNI Jateng Edy Wuryanto memaparkan berbagai permasalahan kebidanan, pada seminar nasional Deteksi Dini Ibu Hamil dengan Kelainan Jantung di Grobogan, baru-baru ini. (Foto: suaramerdeka.com/dok)

GROBOGAN, suaramerdeka.com - Persaingan global yang sudah demikian nyata, membutuhkan payung hukum yang jelas dan peranti pendukungnya untuk membentengi dan melindungi kepentingan para bidan di Indonesia. Hal itu diungkapkan Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jateng Edy Wuryanto saat menjadi pembicara dalam seminar nasional Deteksi Dini dengan Ibu Hamil dengan Kelainan Jatung di Grobogan, baru-baru ini.

"Dalam menghadapi persaingan global, mendesak dibuat undang-undang (UU) dan council kebidanan. Counsil kebidanan adalah lembaga independen yang bertanggungjawab langsung kepada presiden. Ini harus segera lahir unntuk mengetahui bidan mana yang kompeten dan tidak. Itu hak otonomi council,"jelas Edy dalam seminar yang digagas Ikatan Bidan Indonesia Grobogan dan PPNI Grobogan tersebut.

Masalah lain yang belum terurai adalah kesejahteraan bidan. Di satu sisi bidan dituntut memiliki mutu yang tinggi, di sisi lain harus profesional.

Maka standar kesejahteraan bidan harus diatur dalam UU Kebidanan. Terutama tunjangan profesi, jasa pelayanan bidan, sampai standar gaji yang cukup. Untuk itu bidan harus memiliki ilmu yang kuat, penalaran yang tinggi, dan keputusan yang tepat.

Ketua IBI Grobogan Titik Haryanti menegaskan bahwa pihaknya merasa prihatin dengan angka kematian ibu melahirkan yang cukup tinggi. "Untuk itu, bekerjasama dengan dokter dan perawat, kami ingin mengembalikan persalinan ke bidan," jelasnya.

Adapun Dokter Boyke Dian Nugraha seperti biasa membahas problematika seks dan keharmonisan keluarga. Menurut dia, laki-laki yang berusia 45 tahun ke atas agar tidak terlalu memaksakan diri seperti ketika masih berusia di bawah 30 tahun.

"Jangan minum obat kuat, apapun bentuknya. Baik itu yang berupa ramuan, jamu, pil, dll. Sebab itu hanya bersifat mengencangkan alat vital sementara. Padahal jika sering dikonsumsi justru akan merusak sistem kekebalan tubuh, stroke, dll," katanya.

Sementara dokter Robert Samuel Sudirga menjelaskan kepada peserta seminar yang terdiri atas bidan dan perawat agar mendeteksi dini ibu hamil, terlebih yang memiliki kelainan jantung.


(Ali Arifin/CN41/SM Network)