• KANAL BERITA

Anggota Mabes Polri Bangun Komunikasi dengan Tokoh Masyarakat di Daerah

Anggota Mabes Polri, AKP Bakti Kautsar Ali (kiri) berbincang hangat dengan Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Jawa Tengah, Abdul Kholiq Arif di kediamannya di Wonosobo, Rabu (21/11) sore. (Foto suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)
Anggota Mabes Polri, AKP Bakti Kautsar Ali (kiri) berbincang hangat dengan Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Jawa Tengah, Abdul Kholiq Arif di kediamannya di Wonosobo, Rabu (21/11) sore. (Foto suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)

WONOSOBO, suaramerdeka.com - Anggota Mabes Polri turun ke daerah-daerah, guna membangun komunikasi intensif dengan para tokoh masyarakat di wilayah. Hal itu dinilai penting, karena menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) maupun Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019, berbagai potensi kerawanan bisa saja terjadi.

"Kami berupaya membangun komunikasi dengan para tokoh masyarakat untuk mencari masukan atau sharing informasi mengenai apapun," ujar salah satu Anggota Mabes Polri, AKP Bakti Kautsar Ali.

Hal itu ditegaskan Bakti saat melakukan kunjungan ke kediaman Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Jawa Tengah, Abdul Kholiq Arif yang juga merupakan Mantan Bupati Wonosobo, Rabu (21/11) sore. Menurut dia, melalui anjang sana ke tempat-tempat para tokoh masyarakat,  diharapkan dapat mengangkat informasi positif, guna memfilter berbagai informasi bohong, ujaran kebencian, upaya adu domba ataupun fitnah dan lainnya.

"Kami ingin dengan mengangkat informasi dari para tokoh, mampu menumbuhkan optimisme di masyarakat agar mereka bisa lebih bijak, santun dan berfikir panjang demi terciptanya kondisi masyarakat yang aman, damai dan saling bertoleransi. Seperti halnya pada kesempatan ini, dengan berbincang bersama Bapak Kholiq yang merupakan  tokoh HKTI Jawa Tengah serta mantan Bupati Wonosobo, tentu akan banyak informasi positif bisa disebarluaskan ke masyarakat luas," tutur dia.

Menjelang pesta demokrasi, memang berbagai macam kerawanan bisa saja muncul, baik menyangkut isu agama, ras, suku, budaya, keyakinan ataupun hal lainnya. Jika masyarakat tidak diredam, informasi yang bergulir di masyarakat, lebih khusus di media sosial (medsos), bisa saja menjadi bom waktu yang bisa meledak tiba-tiba. "Kami juga sengaja mengajak para awak media agar bisa memberikan informasi mengenai penokohan seseorang, serta mempublikasikannya secara luas," harapnya.

Dalam kesempatan itu, Abdul Kholiq Arif bercerita panjang, baik mengenai kondisi dunia pertanian kita, ketahanan pangan, swasembada pangan, kedaulatan pangan, upaya strategis untuk melakukan regenerasi petani, peningkatan kesejahteraan para petani, rencana jangka panjang fokus pengembangan pertanian di masing-masing daerah, perlunya sekolah menengah kejuruan (SMK) yang khusus mengenai dunia pertanian di masing-masing bidang dan lainnya. "Ya memang kami ingin di daerah ada SMK khusus pertanian, jadi jurusannya bisa jurusan sawah, kebun, kebo (kerbau), wedus (kambing) dan lainnya," ujar dia.


(M Abdul Rohman/CN19/SM Network)