• KANAL BERITA

Keislaman Indonesia Era Milenial Hadapi Tantangan Hebat

PAPARKAN MATERI : Anggota Watimpres Republik Indonesia, KH Yahya Cholil Staquf (pegang mix) memaparkan materi saat acara Diskusi Publik, Islam Kebangsaan Manusia dan Tantangan Milenial yang diselenggarakan LP2M UIN Walisongo Semarang. (suaramerdeka.com / Siswo Ariwibowo)
PAPARKAN MATERI : Anggota Watimpres Republik Indonesia, KH Yahya Cholil Staquf (pegang mix) memaparkan materi saat acara Diskusi Publik, Islam Kebangsaan Manusia dan Tantangan Milenial yang diselenggarakan LP2M UIN Walisongo Semarang. (suaramerdeka.com / Siswo Ariwibowo)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Keislaman dan kebangsaan Indonesia di era milenial mengalami tantangan yang luar biasa hebat. Banyak anak muda yang lebih suka mencari informasi dari media sosial (medsos) yang tidak jelas sumbernya.

"Keislaman dan kebangsaan Indonesia di era milenial seperti sekarang ini menghadapi tantangan yang hebat," kata Ketua Muhammadiyah Jawa Tengah, KH Tafsir saat mengisi acara diskusi publik yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepasa Masyarakat (LP2M) UIN Walisongo Semarang di Aula 1 Kampus 1 UIN Walisongo Semarang, Jalan Prof Dr Hamka, Ngaliyan, Kamis (15/11).

Disebutkannya, isi medsos pada umumnya didominiasi sejumlah kelompok yang wawasan keislaman dan kebangsaannya bermasalah, seperti soal pendurian khilafah. Merebaknya kelompok seperti itu dianggap wajar. Sebab, tidak ada pekerjaan lain selain menggaungkan khilafah.

Di sisi lain, kata dia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sudah memiliki tugas masing masing.  "NU mengurus pesantren, Muhammadiyah mengurus Perguruan Tinggi. Keduanya sudah tidak ada waktu memperdebatkan Pancasila dan NKRI," ungkapnya.

NU dan Muhammadiyah telah bersepakat, bahwa konsep Islam moderat paling cocok diterapkan di Indonesia. Kiai Tafsir optimis, selagi NU dan Muhammadiyah konsisten dan istikamah menjaga marwah Islam, maka pendirian khilafah tidak akan berhasil.

Pemateri lainnya, KH Yahya Cholil Staquf menyatakan, belakangan ini muncul berbagai persoalan yang mengatasnamakan agama. Persoalan itu tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. "Politisasi Islam jadi ancaman bagi Indonesia  dan dunia. Ini tidak boleh terjadi, harus dihentikan," tuturnya.

Menurutnya, selain di Indonesia, politisasi Islam juga terjadi negara negara Barat (Eropa). Kelompok ini sengaja menggalang kekuatan masyarakat supaya curiga terhdap Islam. Mereka mengeskploitasi sentimen negatif terhadap Islam, sehingga agama rusak, masyarakat juga ikut rusak. "Ini harus dihentikan. Indonesia menjadi harapan baru Islam dan dunia," imbuhnya.


(Siswo Ariwibowo /CN26/SM Network)