• KANAL BERITA

Priscilla, My Beautiful Fighter

Mengenang Mendiang Buah Hati Melalui Novel

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

IMAN, pengharapan dan kasih adalah tiga hal yang menjadi pegangan bagi Jacobus Dwihartanto sebagai seorang Katolik, ketika menyadari sebuah kenyataan pahit. Putri tercinta, satu-satunya, didiagnosis kanker otak di usia 15 tahun. Orang tua mana yang tak terpukul ketika putrinya menghembuskan napas terakhir di hadapannya setelah perjuangan panjang. 

Jacobus Dwihartanto, seorang pengusaha yang juga aktif di Palang Merah Indonesia ini menceritakan kisah perjuangan keluarga kecilnya menghadapi kenyataan pahit, gioblastoma, kanker otak yang sangat egresif. Melalui buku "Priscilla, My Beautiful Fighter", Dwihartanto mengabadikan putrinya semenjak lahir ke dunia hingga divonis kanker dan kemudian berpulang 17 bulan setelahnya. "Buku ini utang saya sama dia (Priscilla)," katanya saat launching beberapa waktu lalu di Jakarta. 

Meski mengaku syok, ia enggan menyalahkan takdir. Menurutnya, semua proses menuju akhir hidup Priscilla pada tahun 2012 harus dinikmati dengan ikhlas. "Pilihan saya dua menyalahkan, memaki-maki, marah-marah atau saya terima saya jalani dengan gembira," tuturnya. 

Di mata keluarga dan teman dekat, Priscilla adalah gadis periang, sporty, dan berbakat.  Dua momentum mengharukan dihadirkan dalam buku ini. Pertama adalah bab terakhir yang menggambarkan saat-saat terakhir Priscilla di ruang paliative care selama 45 hari terakhir.

Di ujung hayatnya, Priscilla pergi dengan tenang di sisi keluarganya. Dwihartanto sendiri menilai momen paling mengharukan adalah ketika mengajari putri semata wayangnya berenang kembali. Meski seorang juara renang, Priscilla harus menghadapi kenyataan kemampuannya berenang hilang akibat operasi. Untuk kembali berenang, Dwihartanto mengajarinya secara intensif. Dalam beberapa hari, Priscilla pun kembali dapat menyelami hobinya tersebut. 

Proses Penulisan

Proses penulisan buku ini sendiri membutuhkan waktu selama setahun, mulai dari mengumpulkan keping demi keping pemikiran dan keinginan Priscilla yang dituangkan dalam tulisan dibuku harian, laptop, blog sampai posting-an di Twitter dan Instagram. Banyak hal yang dapat ditemukan mulai dari pemikiran, harapan, cita-cita hingga pandangan pribadi Priscilla tentang cinta sejati dan itu membuat kagum pada pribadinya yang luar biasa meski usianya masih lima belas tahun.

Dwihartanto kemudian mendirikan yayasan yang disebutnya sebagai 'anak asuh'. Yayasan ini juga fokus untuk menangani para penderita kanker. "Yayasan ini emang tujuannya itu, buat ganti anak saya. Siapa waris kita ya sudah yayasan ini saja," ungkapnya. 

Seluruh royalti dari penjualan buku ini disumbangkan melalui Yayasan Maria Priscilla Dwihartanto yang memfokuskan pelayanan di bidang pendidikan dan kesehatan. Di bidang pendidikan, Dwihartanto dan sang istri, Caroline juga memberikan beasiswa bagi siswa-siswa berprestasi, menyumbang buku-buku, furniture, dan lainnya bagi sekolah-sekolah yang membutuhkan.

Pasangan itu juga tengah membangun sebuah rumah sakit dengan nama Priscilla Medical Center (PMC) yang direncanakan akan mulai beroperasi pada pertengahan 2019. PMC dibangun dengan harapan agar rumah sakit ini dapat ikut berperan aktif dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat khususnya di daerah Cilacap, Banyumas dan sekitarnya. 

Kehadiran buku ‘Priscilla, My Beautiful Fighter’ di rasa tepat dan sangat berguna bagi para orang tua yang oleh sang maha kuasa diberikan cobaan mempunyai anak yang memiliki penyakit yang sulit untuk disembuhkan seperti kanker. Buku ini menjadi inspirasi dalam menghadapi semua cobaan yang Maha Kuasa berikan. 

Buku ‘Priscilla, My Beautiful Fighter’semakin memperlengkap deretan buku yang diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama. Buku dengan tebal 308halaman yang dibandrol dengan harga Rp.125.000,-  ini tersedia di seluruh jaringan store Gramedia yang ada di seluruh Indonesia mulai dari tanggal 1 Oktober 2018.


(Kartika Runiasari/CN26/SM Network)